<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:taxo="http://purl.org/rss/1.0/modules/taxonomy/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:syn="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/">
  <channel rdf:about="http://blog.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare">
    <title>gmane.culture.media.mediacare</title>
    <link>http://blog.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare</link>
    <description/>
    <syn:updatePeriod>hourly</syn:updatePeriod>
    <syn:updateFrequency>1</syn:updateFrequency>
    <syn:updateBase>1901-01-01T00:00+00:00</syn:updateBase>
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85561"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85558"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85557"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85549"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85546"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85545"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85540"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85533"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85532"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85531"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85528"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85526"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85524"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85523"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85522"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85521"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85515"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85514"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85512"/>
        <rdf:li rdf:resource="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85511"/>
      </rdf:Seq>
    </items>
    <image rdf:resource="http://gmane.org/img/gmane-25t.png"/>
    <textinput rdf:resource=""/>
  </channel>
  <image rdf:about="http://gmane.org/img/gmane-25t.png">
    <title>Gmane</title>
    <url>http://gmane.org/img/gmane-25t.png</url>
    <link>http://gmane.org</link>
  </image>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85561">
    <title>"Nasihat untuk SBY", "Kick Andy" pun Mau Dicekal</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85561</link>
    <description>&lt;pre&gt;

http://politik.kompasiana.com/2012/05/26/nasihat-untuk-sby-kick-andy-pun-mau-dicekal/



Belum apa-apa, sebenarnya, hubungan antara Presiden SBY dengan Adnan Buyung 
Nasution itu sudah kurang bagus. Karena karakter keduanya tidak cocok. 
Kalau di kepercayaan tradisional Tiongkok tentang shio, mungkin bisa dikatakan shio kedua orang ini ciong (tidak cocok, menimbulkan kesialan). Adnan mempunyai karakter yang keras, 
tegas, blak-blakan, dan tanpa kompromi. Sedangkan SBY terkenal dengan 
kelambah-lembutannya, peragu, tidak percaya diri, melankolis, 
mementingkan pencitraan, kompromis, dan mudah tersinggung. Tetapi tetap 
dipaksakan agar keduanya bekerja sama, ketika Adnan diminta untuk 
menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode pertama (2007-2009). Maka, tak heran terjadilah ketidakcocokan di antara mereka selama dalam periode tersebut. Yang kemudian terungkap luas ketika 
Adnan Buyung Nasution menerbitkan bukunya dengan judul Nasihat untuk SBY (Penerbit Buku Kompas, 2012). Terbitnya buku tersebut pun melahirkan 
perseteruan baru antara kubu SBY dengan Adnan. Pihak SBY marah dan 
tersinggung atas apa yang diungkapkan oleh Adnan di buku tersebut. Adnan dinilai telah melanggar UU tentang Wantimpres, yang melarang setiap 
anggotanya menyebarluaskan isi nasihat Wantimpres kepada siapapun juga. 
Selain itu Adnan dinilai telah berperilaku tidak etis.
Di awal start saja ketika Adnan diminta untuk bersedia bergabung dalam tim Wantimpres sudah ada tanda-tanda ketidakcocokan tersebut. Kesan itulah yang bisa 
didapat ketika kita membaca buku Nasihat untuk SBY itu.
Awalnya, Adnan yang waktu itu (Jumat, 21 Maret 2007) berada di Singapura, 
ditelepon oleh Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab) Indonesia Bersatu, Sudi Silalahi. Sudi memberitahu kepada Adnan bahwa Presiden akan 
membentuk Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang beranggota 
sembilan orang. Salah satunya adalah Adnan untuk Bagian Hukum.
Adnan mengaku kaget namanya dimasukkan begitu saja oleh Presiden SBY, tanpa 
menanyakan lebih dulu kepadanya. Adnan tambah kaget, ketika Sudi 
mengatakan lagi bahwa besoknya, Presiden SBY akan langsung mengumumkan 
nama-nama tersebut. Surat Keputusannya sudah dibuat.
Adnan pun protes, tidak terima. Dia bilang, tidak bisa begini caranya. Dia 
harus bertemu dulu dengan Presiden, untuk mengetahui terlebih dulu apa 
visi dan misi Presiden SBY tentang Wantimpres itu. Setelah itu baru bisa dia mengambil keputusan, terima atau tidak jabatan itu.
Sudi membujuk, “Begini saja Bang, nama Abang sudah dimasukkan di dalam SK 
yang akan diumumkan besok, hari Sabtu. Boleh tidak kita umumkan saja 
dulu nama Abang? Nanti setelah Sabtu baru kita atur pertemuan dengan 
Presiden.”
Adnan menolak usulan yang bernuansa formalitas seperti itu. Dia merasa di-fait a compli. Dia tetap bersikeras untuk bertemu dulu dengan Presiden SBY. “Baiklah, 
nanti saya bicara dulu dengan Bapak Presiden,” kata Sudi mengalah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Sudi telepon lagi. Kata dia, SBY bersedia 
bertemu dengan Adnan pada Senin, 24 Maret 2007 (Adnan pulang ke 
Indonesia pada Minggu, 23 Maret 2007), tetapi SBY tetap meminta Adnan 
menyatakan bersedia dulu untuk menerima jabatan Anggota Dewan 
Pertimbangan Presiden karena SK-nya sudah dibuat, dan akan diumumkan 
keesokan harinya.
Adnan tetap tidak mau. Penjelasan Sudi ini pada intinya sama saja dengan sebelumnya. Hanya kalimatnya saja yang berbeda.
“Tidak bisa Sudi, Abang tidak mau fait a compli begitu. Abang merasa dipaksa tanpa tahu visi dan misi Presiden. Kalau 
sudah diumumkan ternyata Abang tidak setuju, bagaimana? Nanti nama Abang jelek. Serba sulit nantinya. Abang tidak mau. Bilang saja kepada 
Presiden, Abang tidak bersedia kalau caranya begitu. Lebih baik tidak 
usah saja dimasukkan nama Abang.”
Sudi menyerah. Telepon yang ketiga masuk, kali ini Sudi mengatakan kepada 
Adnan bahwa Presiden SBY sendiri yang bicara langsung dengannya.
Presiden SBY menjelaskan kepada Adnan tentang latar belakang dan maksudnya 
membentuk Dewan Pertimbangan Presiden itu, serta membujuk Adnan agar 
bersedia menjadi anggotanya, yang akan diumumkan keseokan harinya. “ … 
Saya mohon Bang Buyung bersedia menjadi anggotanya. Abang ‘kan tokoh 
yang amat kami hormati. Saya sudah kenal Abang begitu lama, sebagi 
pejuang dan aset bangsa kita.”
Tetapi Adnan bergeming. Dia tetap bersikukuh dengan prinsipnya bahwa dia harus bertemu empat mata dengan Presiden SBY terlebih dahulu (di Jakarta), 
agar bisa tahu cocok atau tidak. “Jangan sampai saya menerima suatu 
jabatan tapi tidak cocok, lalu kita berantem,” kata Adnan. 
Ternyata, meskipun kelak sudah bertemu empat mata, dan sudah jelas visi dan misi 
Presiden SBY membentuk Wantimpres itu, tetap saja mereka berdua 
berantem. Karena rupanya, SBY mengkhianati sendiri visi dan misinya itu. Sekarang, perseteruan mereka bertambah seru lagi, dengan terbitnya buku Nasihat untuk SBY itu.
Setelah tak berhasil membujuk Adnan. Presiden SBY pun mengalah, dan bersedia 
menunda pengumuman pembentukkan Wantimpres berserta nama 
anggota-anggotanya itu, sampai setelah ada pertemuannya dengan Adnan 
Buyung Nasution.
Sepulangnya dari Singapura, kembali ke Tanah Air, Adnan masih meminta masukkan dari keluarganya, dan lawyers di Adnan Buyung Nasution and Partners (ABNP) tentang permintaan 
Presiden SBY iru. Dia juga meminta asistennya, Ali Nurdin untuk 
mengumpulkan data-data tentang Dewan Pertimbangan Presiden itu. Guna 
dipakai dalam dskusi pertemuannya dengan SBY kelak.
Setelah tertunda beberapakali, akhirnya Adnan bertemu juga dengan Presiden SBY di Istana Negara, pada Rabu, 28 Maret 2007. Seperti permintananya, pertemuan tersebut hanya dilakukan 
di antara mereka berdua. Empat mata. Dalam pertemuan itu SBY menjelaskan panjang lebar tentang visi dan misinya membentuk Wantimpres itu. 
Sesudah mendapat penjelasan itu, Adnan memutuskan menerima tawaran SBY 
itu. SBY menjabat tangannya erat-erat, memeluknya dan cipika-cipiki pun terjadi. Besoknya, Kamis, 29 Maret 2007, Presiden SBY mengumumkan 
pembentukan Dewan Pertimbangan Presiden berserta nama-nama sembilan 
anggotanya.
Baru saja pengumuman itu disampaikan, datanglah undangan kepada Adnan Buyung Nasution dari Andi F. Noya untuk mengisi acara Kick Andy di Metro TV. Acara tersebut direkam terlebih dahulu sebelum ditayangkan dua minggu kemudian.
Di dalam acara Kick Andy yang terkenal dengan pertanyaan-pertanyaannya yang kritis, spontan, dan penuh kejutan itu terlontar pertanyaan pertama dari Andi Noya yang 
langsung membuat Adnan merasa terpojok, “Bang Buyung oleh publik Abang 
dikenal selama puluhan tahun berjuang di luar struktur pemerintahan, 
kenapa sekarang Abang mau masuk, padahal ibarat kapal, pemerintahan 
sekarang yang nahkodanya SBY sudah mau karam, kok Abang malah masuk?”
Adnan menjawab, “ Memang benar, selama ini saya berjuang dari luar, 
memberikan kritik, komentar, masukkan, bahkan berdemonstrasi. Sekarang 
saya diminta masuk ke dalam pemerintahan yang bagai kapal yang hampir 
karam, justru karena saya merasa wajib masuk untuk menyelamatkannya. 
Saya tidak tega dan tidak rela melihat kapal ini atau bahkan negara ini 
karam. Saya sebagai pejuang harus turun tangan membela kapal ini jangan 
sampai tenggelam, supaya kita bisa terus berlayar mencapai cita-cita 
berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini dengan memberi nasihat dan 
pertimbangan kepada Presiden. Diminta, maupun tidak diminta.”
Andi kemudan bertanya lagi, “Di dalam memberikan arahan kepada Kapten supaya kapal jangan tenggelam, kalau bentuknya nasihat, apa ukurannya nasihat 
Abang diterima atau tidak? Bagaimana Abang mengukur berhasil atau 
tidaknya nasihat Abang itu, atau percuma saja Abang memberi nasihat?”
Adnan menjawab begini, “ … Tidak ada parameter atau ukuran yang pasti. Taruhlah dengan berpikir sederhana, ada sepuluh point of interst kepentingan bangsa dan negara yang dipertaruhkan, dan saya memberikan 
nasihat. Kalau sembilan dari sepuluh nasihat saya diterima, berarti 
berhasil nasihat saya itu. Tetapi kalau dari sepuluh nasihat 
saya hanya satu yang diterima, berarti gagal, tidak ada gunanya saya 
kasih nasihat. Lebih baik saya keluar, saya cabut saja dari situ, buat 
apa saya ada di situ.”
Pernyataan Adnan Buyung Nasution yang saya jadikan huruf tebal itu kemudian dijadikan cuplikan untuk iklan acara Kick Andy itu itu setiap hari di Metro TV sebelum penayangannya. Iklan yang 
gencar dengan kutipan kalimat-kalimat yang keras dan pedas dari Adnan 
itu rupanya sampai di telinga Presiden SBY. Membuat telinganya memerah. 
SBY tidak terima. Dia tersinggung dan marah.
Lewat T.B. Silalahi, Adnan ditegur melalui telepon: “Bang, saya ini dekat 
dengan Presiden, saya tahu perasaannya terpukul sekali dengan pernyataan Abang itu. Abang ‘kan belum dilantik, belum mulai bekerja tapi sudah ngancam mau keluar, kenapa sih Abang begitu?”
“Lho, itu memang sikap Abang,” jawab Adnan tegas, “Abang mau masuk ke situ memang niatnya seperti itu. Mesti didengar dong nasihat kita. Kalau tidak, buat apa kita ada di situ, sama saja dengan DPA zaman dulu.”
“Tapi ‘kan belum dilantik, Abang sudah ngancam-ngancam mau keluar.”
“Bukan ngancam, tapi memberitahusikap Abang dari awal, supaya semua orang tahu. Menangnya kenapa? Apa salahnya?”
Adnan mengaku dia dengan T.B. Silalhi pun ribut, bertengkar di telepon gara-gara tayangan iklan Kick Andy itu.
Akhirnya, T.B. Silalahi bilang kepada Adnan, “Tolong, Bang, stop itu advertensinya, jangan terus-terusan!”
Tentu saja Adnan menolaknya, “Lho, tidak bisa. Bukan hak sayauntuk menghentikan, itu haknya pers, haknya Metro TV.”
Rupanya, pihak Istana belum mau menyerah. Ternyata SBY sangat gerah dengan 
ucapan keras Adnan itu. Tetapi seperti biasa, tidak berani bersikap 
tegas. Watak dan jurus Orde Baru pun dikeluarkan. Mereka pun menelepon 
Andy Noya untuk menghentikan iklan tersebut. Andi Noya menghubungi 
Adnan, minta pertimbangannya.
Adnan menjawab Andy, “Abang tahu, Abang tidak keberatan, kok. Bukan Abang yang minta dihentikan. Abang senang saja. Terserah kalianlah, bagaimana mengatasinya.”
Entah bagaimana cerita selanjutnya, yang pasti iklan acara Kick Andy dengan tokoh utamanya Adnan Buyung Nasutiuon itu tetap disiarkan 
terus-menerus. Sampai pada waktu acaranya ditayangkan. Rupanya, pihak 
Istana tidak berdaya untuk menaklukkan Andy Noya, atau lebih tepatnya 
Metro TV. Mungkin kalau pemilik Metro TV itu bukan Surya Paloh, 
ceritanya lain lagi. Tetapi, menurut Adnan inilah buah dari perjuangan 
reformasi terhadap kebebasan berekspersi yang tidak mampu ditaklukan 
oleh pemerintah lagi. Dalam momen-monen seperti ini mungkin 
pimpinan-pimpinan seperti SBY rindu dengan cara memerintah dengan sistem diktaor dan otoriter. Rindu dan ingin cara-cara rezim Orde Baru 
memeintah bisa diterapkan kembali.
Apabila Adnan tidak menulis dan menerbitkan buku Nasihat untuk SBY ini, kita tentu tidak bakal tahu kejadian-kejadian seperti ini. 
kejadian-kejadian yang membuat kita bisa menilai macam apakah rezim yang sedang memerintah sekarang ini. ***
Tulisan saya yang lain, yang berkaitan:“Nasihat untuk SBY” yang Membuat SBY MarahSumber: Nasihat untuk SBY, oleh Adnan Buyung Nasution (Penerbit Buku Kompas, April 2012)&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Daniel Thie</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T11:31:24</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85558">
    <title>"Nasihat untuk SBY" yang Membuat SBY Marah</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85558</link>
    <description>&lt;pre&gt;http://media.kompasiana.com/buku/2012/05/26/nasihat-untuk-sby-yang-membuat-sby-marah/



Waktu pertamakali melihat buku Nasihat untuk SBY oleh mantan anggota Dewan Penasihat Presiden (Wantimpres) periode pertama (2007-2009), Adnan Buyung Nasution, di Toko Buku Gramedia, Grand City, Surabaya, saya langsung tertarik untuk 
membelinya. Apalagi, setelah membaca sinopsis di bagian belakang cover-nya. Saya pikir buku tersebut pasti akan menimbulkan kontroversial dan 
kemarahan dari pihak SBY (yang kita semua sudah tahu karakternya 
bagaimana). Ternyata, benar. Pihak SBY merasa tersinggung dengan 
penerbitan buku tersebut. Kontroversial pun mulai menyeruak. Apalagi 
dilihat dari aspek hukum formal apa yang dilakukan oleh Buyung itu 
memang melanggar Undang-Undang. Yaitu, UU No. 19 Tahun 2006 tentang 
Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pasal 6, ayat 1 UU itu 
mengatur: Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, anggota Wantimpres 
tidak dibenarkan memberikan keterangan, pernyataan, dan/atau 
menyebarluaskan isi nasihat dan pertimbangan kepada pihak mana pun. 
Lalu, kenapa Adnan yang sudah tahu dan mengakui perbuatannya menerbitkan buku tersebut melanggar undang-undang, tetap saja nekad melakukannya? Inilah sisi menariknya. Tentu, yang lebih menarik lagi, kita menjadi sangat 
ingin tahu apa saja yang terjadi selama Wantimpres dengan Adnan sebagai 
salah satu anggotanya (bidang hukum) menjalankan tugasnya itu? Bagaimana terjadi interaksi dan komunikasi dengan Presiden SBY? Apakah Wantimpres tersebut berfungsi secara efektif? 
Menurut Adnan memang UU melarang setiap anggota Wantimpres untuk memberi 
keterangan, pernyataan, dan/atau menyebarluaskan isi nasihat dan 
pertimbangan kepada pihak manapun. Tetapi, menurut Adnan juga, tiada 
suatu kerahasian yang sifatnya mutlak. Kemutlakan itu akan bersifat 
relatif, apabila ada kepentingan yang lebih tinggi darinya. Dalam hal 
ini adalah kepentingan rakyat Indonesia. Keberadaan Wantimpres dengan 
segala status, wewenang, dan privelege itu dibayar dari dan oleh uang rakyat, maka harus ada pertanggungjawaban kepada rakyat atas tugas konstitusional.
Dalam Kata Pengantar-nya di buku itu, Adnan menulis alasan dia memilih untuk 
mempublikasikan apa yang pernah dia (bersama anggota Wantimpres lainnya) lakukan dalam menjalankan fungsinya sebagai anggota Wantimpres 
2007-2009. 
Sepertinya, Adnan selama ini gundah, atau terjadi perang dalam bathinnya karena 
selama menjadi anggota Wantimpres itu merasa tidak berdaya, karena 
keberadaan mereka itu dirasakan hanya sebagai formalitas atau pencitraan bagi Presiden SBY. Padahal adalah SBY sendirilah sampai memohon-mohon 
kepadanya untuk mau menjadi bagian dari Wantimpres itu. Karena jangankan pertimbangan-pertimbangan mereka didengar, bertemu saja nyaris tak 
pernah. Selama masa 1,5 tahun menjalankan jabatan itu, efektif hanya 
tiga kali Wantimpres bisa komunikasi langsung dengan Presiden SBY. 
Selebihnya harus bergerilya, melalui Mensesneg, dan Mensekkab. Bahkan 
dalam satu tahun terakhir sama sekali tidak ada pertemuan. Jadi, hanya 6 bulan pertama saja keberadaannya terasa benar-benar ada. Setelah itu 
seolah-olah saja ada.
Adnan munlis:
Perlu dipertanyakan lebih jauh sampai di mana kerahasiaan itu berlaku? Apakah segalanya itu serba rahasia sehingga masyarakat tidak boleh mengetahui 
apapun? Kalau begitu masyarakat tidak tahu apa tugas dan tanggung 
Wantimpres. Lebih jauh lagi masyarakat juga tidak akan pernah tahu 
apakah Wantimpres sungguh-sungguh bekerja memberikan nasihat dan 
pertimbangan yang tepat kepada Presiden atau tidak? Kalau Presiden 
melakukan kesalahan dalam tindakan dan keputusannya,apakah karena 
sebelumnya Wantimpres tidak memberikan nasihat dan pertimbangan? Lalu 
kenapa pula Wantimpres tidak memberikan nasihat dan pertimbangannya? 
Bisa timbul berbagai pertanyaan seperti itu dari masyarakat.
Sebab itulah di dalam buku ini saya dengan sadar selaku mantan anggota 
Wantimpres membuka semua pengalaman dan pemikiran saya dengan niat dan 
tujuan yang bersih untuk memberikan pertanggungjawaban moral, hukum, dan politik, kepada masyarakat. Karena 
Keberadaan Wantimpres dengan segala status, wewenang, dan privelegeitu dibayar dari dan oleh uang rakyat, maka harus ada pertanggungjawaban kepada rakyat atas tugas konstitusional.
Rupanya, Adnan khawatir bahwa masyarakat akan menilainya selama bertugas sebagai anggota bagian hukum dari Wantimpres itu hanya makan gaji buta. Hanya 
demi popularitas, hanya demi menaikkan nilai jualnya saja, menerima 
jabatan tersebut dari Presiden. 
Bahwa dia tidak sungguh-sungguh bekerja untuk memberi 
pertimbangan-pertimbangan yang sangat penting kepada Presiden. Padahal, 
menurut Adnan dia itu sudah bekerja dengan ekstra keras, sampai stres 
berat, capek, kehilangan banyak waktu dan uang (dengan rela untuk 
sementara meninggalkan firma hukumnya, karena ada larangan jabatan 
rangkap), tetapi semua upayanya itu tidak dihargai Presiden SBY. 
Sementara itu kebijakan-kebijakan Presiden SBY sangat bertolak belakang 
dari prinsip-prinsip pemerintahan yang baik. Jangan sampai masyarakat 
menilai bahwa semuanya itu juga akibat dari Wantimpres di masanya itu 
tidak pernah mengingatakn dan memberi nasihat-nasihat kepada Presiden 
SBY, atau malah memberi nasihat yang keliru, sehingga membuat Presiden 
SBY berperilaku seperti “pemerintahan yang sesat,” sampai seperti 
sekarang ini.
Guru Besar Hukum Universitas Indonesia, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, yang juga adalah mantan anggota Wantimpres periode setelah Adnan, Jimly 
Asshiddiqie menilai apapun alasannya, Adnan tidak patut menyebarluaskan 
isi nasihat Wantimpres yang pernah disampaikan kepada Presiden itu, 
seperti yang telah dilakukan Adnan melalui bukunya itu. Itu melanggar 
etika dan UU Wantimpres.
Menurut Jimly, alasan Adnan itu juga tidak tepat. Tanggung jawab kepada rakyat 
adalah tanggung jawab politik, dan bukan tanggung jawab hukum. Biasanya, itu hanya dipakai sebagai jargon politik agar terlihat gagah dan 
heroik. (Kompas.com, 26/05/2012).
Secara hukum, lanjut Jimly, Wantimpres dan para anggotanya bertanggung jawab 
hanya kepada presiden yang mengangkatnya. Wantimpres tidak diangkat oleh rakyat, maka secara moral dan hukum harus tanggung jawab kepada 
presiden. Demikian Jimly.
Yang saya khawatirkan adalah jika pendapat Jimly itu dibenarkan secara 
mutlak, maka sangat mungkin presiden yang “tidak beres” itu akan 
berlindung di balik hukum tersebut, untuk menutup-nutupi fakta-fakta 
yang sebenarnya terjadi. Bahwa keberadaan Wantimpres itu sebenarnya 
hanyalah formalitas saja, hanya sebagai pencitraan saja. Sementara itu, 
untuk semua kebijakan yang dia putuskan dan lakukan hanyalah berdasarkan pertimbangannya semata. Keberadaan Wantimpres itu hanya berguna baginya agar masyarakat melihatnya sebagai seorang presiden yang demokratis, 
yang mau mendengar nasihat dan pertimbangn dari pihak-pihak lain. 
Padahal faktanya tidak begitu. Kalau kerahasian itu bersifat mutlak, dan secara kaku UU itu diterapkan, maka niscaya “kebobrokan” Presiden SBY 
itu pun akan tertutup rapat. 
Jika Presiden SBY melakukan kesalahan, yang merugikan pencitraannya, dia 
bisa berbagi, atau menimpakan kesalahan kepada Wantimnpres. Atau membuat masyarakat melihatnya seolah-olah seperti itu. Padahal, Wantimpres 
sudah mengingatkannya untuk (jangan) memutuskan/melakukan sesuatu hal 
itu. Halmana, inilah yang dirasakan Adnan, sehingga dia akhirnya 
memutuskan membukanya ke publik lewat bukunya itu. Agar publik tahu 
segalanya, Bahwa Adnan sudah pernah mengingatkan, atau sudah pernah 
menasihatkan Presiden SBY, tetapi SBY tidak mau mendengarnya.
Misalnya, Adnan pernah memberi pertimbangan kepada Presiden SBY agar jangan mau 
ikut menandatangani UU Pornografi yang telah disetujui oleh DPR itu. 
Pertimbangannya adalah karena UU tersebut tidak mengakomodiraspirasi banyak kalangan, dan mengingkari kebhinekaan di dalam masyarakat 
Indonesia. Ada beberapa pasal yang mayoritas masyarakat tidak setuju, 
terutama seniman, kaum muda, dan kaum perempuan karena mengancam 
kebhinekaan di Republik ini. 
Tetapi SBY tetap saja menandatanganinya. Menurut Adnan, sikap SBY yang tidak 
mau mendengar nasihatnya itu, karena SBY sudah terbawa arus kepentingan 
politik sempit dan sesaat dari elite politik di DPR yang dikendalikan 
oleh obsesi-obsesi politik identitas (terutama agama), yang mengancam 
kemajemukan NKRI. 
Meskipun sesuai dengan ketentuan setiap UU yang telah disetujui DPR, meskipun 
tidak ditandatangani Presiden, tetap berlaku 30 hari setelah pengesahan 
oleh DPR itu. Tetapi, kata Adnan, dengan tidak ikut 
mengesahkan UU Pornografi itu, akan memberi makna atau pesan yang dalam 
kepada masyarakat tentang nilai-nilai moral yang harus dijunjung tinggi 
bersama dalam menghormati, menghargai, dan menjaga kebhinekaan yang 
hidup dan terus berkembang dalam masyarakat, sekaligus untuk menjaga 
keutuhan dan integritas bansa, sekarang, maupun masa depan.
Kini, buku Nasihat untuk SBY itu telah beredar luas. Ketersinggungan dan kemarahan pihak Presiden 
SBY, dan kontroversialnya malah akan membuat buku ini menjadi semakin 
laris, dan bersamaan dengan itu akan semakin membuat semakin banyak 
orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Wantimpres angkatan 
pertama (2007-2009) dengan Presiden SBY itu versi salah satu anggotanya, Adnan Buyung Nasution.
Sejak awal seharusnya SBY tidak mengajak, apalagi sampai memohon-mohon kepada Adnan untuk bergabung di Wantimpres ini. Karena karakter Adnan yang 
terkenal keras, blak-blakan tanpa kompromi ini tidak sinkron dengan 
karakter SBY yang halus, melankolis, menjunjung tinggi pencitraan diri, dan mudah tersinggung itu. Kini, SBY harus “menangung akibatnya”. Adnan 
yang merasa tidak bisa menerima cara Presiden memperlakukannya selama di Wantimpres itu pun “mengamuk” lewat bukunya itu. 
Sejak awal saja, belum apa-apa sebetulnya keduanya sudah tidak cocok. Yaitu, 
ketika baru saja Presiden SBY, pada 29 Maret 2007 mengumumkan nama 
anggota-anggota Wantimpres, yang salah satunya adalah Adnan Buyung 
Nasution, Adnan sudah mendapat undangan dari Andy F. Noya untuk mengisi 
acara Kick Andy di Metro TV. Dalam acara itulah ada pernyataan 
Adnan yang membuat Presiden SBY tersinggung berat. Sampai-sampai sempat 
meminta iklan yang mempromosi acara tersebut, yang menayangkan kutipan 
pernyataan Adnan itu supaya dihentikan tayangannya. Tetapi,ditolak oleh Adnan, yang mengatakan dia tidak punya wewenang untuk itu. Yang 
punya wewenang adalah pihak Metro TV. Pihak Istana pun menelepon Andy 
Noya untuk keperluan tersebut. Apakah isi pernyataan Adnan yang membuat 
SBY marah itu?
Apakah benar ketika mengajak Adnan untuk bergabung di Wantimpres itu Presiden 
SBY sampai memohon-mohon? Kesan itulah yang saya dapatkan setelah 
membaca buku tersebut. 
Saya akan menulisnya di artikel berikutnya.***&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Daniel Thie</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T10:23:27</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85557">
    <title>Dulu Avatar Aang, Kini Avatar Korra</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85557</link>
    <description>&lt;pre&gt;

 
saat Korra tiba di Kota Republik 

SEHARIAN saya tinggal di rumah dan menghabiskan waktu untuk menonton serial The Legend of Korra. Serial ini adalah kelanjutan dari Avatar: The Last Air Bender. Jika sebelumnya, sosok yang menjadi Avatar adalah bocah plontos bernama Aang, maka dalam serial ini, Aang berreinkarnasi pada remaja perempuan bernama Korra, yang berasal dari suku air.

Mulai tanggal 14 April 2012 lalu, serial ini ditayangkan di Nickleodeon. Saya memilih untuk menontonnya dengan cara ilegal yakni men-download melalui torrent. Di sini, untuk men-download film atau serial hanya butuh waktu lima menit. Sebagai penggemar Avatar (yang berulang-ulang menonton serial ini), dahaga saya akhirnya terpuaskan. Meskipun kali ini tak ada lagi Aang, Katara, dan Sokka, namun saya tetap tidak kehilangan 'rasa' serial ini. Tetap saja seru, menegangkan, dan sarat filosofi.

Serial ini mengambil setting di Kota Republik, sebuah kota yang didirikan oleh Avatar Aang setelah mengakhiri perang 100 tahun bersama sahabatnya Zuko, Toph, Katara, dan Soka. Aang mendirikan kota ini yang bercirikan universalitas, di mana semua manusia bisa hidup bersama dengan damai. Sebelum mendirikan Republik, masyarakat terbagi-bagi berdasarkan empat unsur yakni api, tanah, air, dan udara. 

 
salah satu pose Korra 
 
Korra di dekat patung Avatar Aang 

Serial ini mengambil setting waktu yakni 70 tahun setelah kematian Aang. Karakter yang tersisa dari serial sebelumnya adalah Katara, yang sudah berusia lajut. Ia melatih Korra untuk menguasai elemen air. Dalam kisah ini, Aang dan Katara memiliki tiga anak, namun hanya anak terakhir yakni Tenjin yang punya kemampuan untuk mengendalikan udara.

Karakter lain yang masih punya kaitan dengan serial sebelumnya adalah Lin Beifong. Beliau adalah putri Toph, sahabat Aang yang mengajari elemen bumi. Lin menjadi kepala polisi, yang juga menguasai elemen besi. Dalam serial sebelumnya dikisahkan kalau Tof akhirnya bisa mengendalikan besi. Di film ini, Lin amat tegas, dan memiliki pasukan yang amat kuat.

Berbeda dengan masa Aang di mana semua tempat bernuansa tradisional, maka Kota Republik suasananya agak modern. Kira-kira suasananya seperti kota Shanghai tahun 1920-an, di mana kotanya merupakan kombinasi antara tradisional dan modern. Di kota ini, terdapat banyak mobil antik sehingga jalanan amat sibuk. Di kota ini juga terdapat banyak gedung pencakar langit. 

Makanya, setting film ini amat modern. Saya serasa melihat gabungan antara Avatar dengan film Karate Kid. Itu juga nampak pada karakter Korra yang bergabung dalam tim bela diri dan ikut kejuaraan pengendalian empat unsur. Para pemainnya memakai pelindung yang canggihj. Suasananya persis film Final Fantasy atau komik Tiger Wong.

 
Korra bersama sahabat-sahabatnya 
 
Korra bersama Naga, hewan tunggangannya 

Zamannya memang beda. Jika dalam serial Aang, sosok Avatar amat dinantikan, maka Korra justru berbeda. Ia hidup di masa modrn ketika Avatar tidak dianggappenting. Semua orang menggandrungi cara berpikir modern. Orang lebih percaya polisi atau tentara. Tapi bukan berarti kriminalitas reda. Pada titik ini, posisi Korra jadi sangat penting.

Ketika menonton The Legend of Korra, Book I yakni water (air), saya banyak membandingkan serial ini dengan Avatar Aang. Selain setting yang sudah saya bahas di atas, masih ada beberapa perbedaan lain yang akan saya bahas.

Pertama, dalam serial sebelumnya, Aang masih kanak-kanak dan berkelana untuk mempelajari ketiga unsur lain yakni tanah, air dan udara. Perjalanannya adalah demi menemui guru yang mengajarinya menguasai unsur itu. Dalam kisah Korra, ia sudah remaja (berusia sekitar 17 tahun) yang menguasai tiga unsur yakni air, tanah, dan api. Ia hanya butuh menguasai unsur udara. Makanya, ia datang ke kota Republik demi belajar pada Tenjin, putra Aang.

Kedua, dalam seral sebelumnya, konflik adalah antar kerajaan yang basisnya adalah unsur. Aang menghadapi Kerajaan Api yang perkasa dan menjajah semua kerajaan lain. Dalam serial yang baru, Korra berhadapan dengan isu-isu yang lebih modern di kota Republik yakni kriminalitas, serta gerakan revolusi yang hendak menyingkiran para penguasa unsur. 

 
salah satu gaya bertarung 
 
di depan Kota Republik 

Musuh terbesarnya adalah Amon, pemimpin kaum equalist, yang hendak menyingkirkan para penguasa unsur. Amon memiliki pasukan yang amat kuat. Pasukannya menguasai cara mematikan kemampuan pengendalian unsur. Pasukannya juga bisa berkelahi dengan jurus pengendalian chi, sejenis totok yang membuat tubuh lawan langsung kaku dan mati rasa. Korra akhirnya berhadapan dengan pasukan hebat yang dikendalikan Amon ini.

Ketiga, Aang adalah sosok yang amat jenaka. Sangat beda dengan Korra yang serius ditemani teman-temannya yang kadang konyol. Mungkin ini adalah pengaruh dari unsur yang mereka kuasai. Unsur udara membuat Aang sangat jenaka dan bebas berekspresi. Beda dengan unsur air yang dikuasai Korra, dan membuatnya tegas dan bisa menjadi air menjebol apapun.

Dari banyak perbedaan itu, tentunya terdapat banyak kesamaan. Dahulu Aang, ditemani bison terbang bernama Appa. Kali ini, Korra ditemani beruang kutub bernama Naga. Kemudian Aang punya sahabat dekat, demikian pula dengan Korra.

Secara umum, saya sangat ketagihan untuk menuntaskan serial ini. Saya suka dengan ketegangan-ketegangan serta petualangan mengikuti remaja putri yang menguasai unsur alam ini. Saya juga suka dengan sosok Korra yang labil dan mudah emosi, sebagaimana Aang. Sayangnya, saya baru menonton sampai episode tujuh. Di Amerika sendiri, serial ini baru sampai episode 10 (kalau tak salah).  

Yang pasti, saya punya serial kesukaan yang akan terus saya tunggui dan tonton hingga bosan.(*)


Athens, 18 Mei 2012

BACA JUGA:

Penerus Avatar Aang

Avatar: The Legend of Aang

Kehilangan Serial Avatar

Avatar Aang dan Rasul Baru

Avatar, Petaka Sains, dan Rasa Bersalah
&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Yusran Darmawan</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T10:07:26</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85549">
    <title>Senggolan Berita 260512</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85549</link>
    <description>&lt;pre&gt;Penghadang Ibas dan Anas terancam 12 thn penjara. 
= Seandainya yg dihadang itu org yg sdg mau ibadah, penghadangnya FPI. Polisi akan bilang demi keamanan, seharusnya yg dihadang itu mengalah.

Ruhut: Kita tdk bs bayangkan kalau sampai ada kekerasan pd Anas. Kasihan dia. 
= Msh jauh lbh mendingan drpd digantung di Monas.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group &amp;lt; at &amp;gt; FB: 
http://www.facebook.com/groups/mediacare/


Yahoo! Groups Links

&amp;lt;*&amp;gt; To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

&amp;lt;*&amp;gt; Your email settings:
    Individual Email | Traditional

&amp;lt;*&amp;gt; To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

&amp;lt;*&amp;gt; To change settings via email:
    mediacare-digest&amp;lt; at &amp;gt;yahoogroups.com 
    mediacare-fullfeatured&amp;lt; at &amp;gt;yahoogroups.com

&amp;lt;*&amp;gt; To unsubscribe from this group, send an email to:
    mediacare-unsubscribe&amp;lt; at &amp;gt;yahoogroups.com

&amp;lt;*&amp;gt; Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>danielht2002-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w&lt; at &gt;public.gmane.org</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T01:24:00</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85546">
    <title>100 Mahasiswa di Banyumas Terindikasi Masuk Gerakan NII</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85546</link>
    <description>&lt;pre&gt;http://www.suarapembaruan.com/home/100-mahasiswa-di-banyumas-terindikasi-masuk-gerakan-nii/20484


100 Mahasiswa di Banyumas Terindikasi Masuk Gerakan NII
Kamis, 24 Mei 2012 | 14:57
 Ilustrasi bendera NII [google] 


Berita Terkait

  a.. Pengantin Baru Menghilang, Kelurga Menduga Diculik Jaringan NII 
  b.. Sehari NII Jateng Bisa Kumpul Duit Rp 15 Juta 
  c.. Enam Warga Ungaran Resmi Tersangka NII 
  d.. Polisi Masih Periksa Enam Orang Anggota NII 
  e.. Warga Gerebek Sebuah Rumah Kontrakan di Cilegon 
[PURWOKERTO] Negara Islam Indonesia Crisis Center (NCC) mencatat sekitar 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banyumas, Jawa Tengah, terindikasi masuk gerakan NII.

"Kami menerima laporan di Banyumas ada sekitar 100 mahasiswa yang terindikasi masuk NII, dan 70 orang di antaranya ada di sini (Universitas Jenderal Soedirman, red.)," kata pendiri NCC, Kent Setiawan, di Purwokerto, Kamis.

Kent mengatakan hal itu kepada wartawan usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional "Penguatan Pilar Kebangsaan Guna Membentengi Generasi Muda dari Pengaruh Paham Ideologi NII" yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed bersama Institute for Democracy Studies (Indecs) di Aula FISIP Unsoed Purwokerto.

Menurut dia, NCC menerima laporan tersebut dari orang tua maupun orang-orang terdekat dengan korban (mahasiswa yang terindikasi masuk dalam gerakan NII.

Ia mengatakan, mahasiswa yang direkrut NII rata-rata pendiam dan berasal dari keluarga kaya.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya dosen yang terlibat dalam gerakan NII, dia mengakui telah menerima laporan yang menyebutkan dugaan tersebut.

"Ada memang laporan yang mengindikasikan itu (dosen terlibat NII), namun kami belum berani memublikasikannya karena tidak ada bukti dokumentasi atau foto. Kami hanya menerima laporan dari korban jika dia melihat adanya seorang dosen dalam suatu acara NII," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, gerakan NII saat ini mengalami kevakuman karena sedang menunggu penyelesaian kasus Panji Gumilang (pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun Indramayu, red.).

"Rencananya 21 Mei kemarin, vonis di Pengadilan Indramayu. Namun dengan alasan sakit, Panji Gumilang tidak menghadiri persidangan. Padahal di Jawa Tengah, sudah jelas pasal makarnya mengarah ke Panji Gumilang," katanya.

Menurut dia, wilayah rawan NII di Indonesia tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Namun yang paling rawan Jawa Tengah karena paling banyak. Korbannya yang lapor juga paling banyak dari Jawa Tengah," katanya.

Ia mengatakan, NII di Jawa Tengah ada dua kelompok, yakni KW 2 dan KW 9.

Dalam hal ini, kata dia, NII KW 2 rata-rata diikuti orang tua dengan membentuk sejumlah yayasan.

"Kalau KW 9 dari Jakarta dan mereka merekrut mahasiswa," katanya.

Menurut dia, munculnya dua kelompok NII di Jawa Tengah karena adanya migrasi lantaran provinsi ini dinilai berhasil dalam penggalangan dana oleh KW 2, sedangkan KW 9 di Jakarta sukses dalam penggalangan massa.

Dengan demikian, kata dia, anggota NII KW 9 didatangkan ke Jawa Tengah untuk menggalang massa dan anggota NII KW 2 dibawa ke Jakarta untuk penggalangan dana.

"NII Jawa Tengah dinilai pintar cari duit," katanya.

Kent meyakini ada oknum pejabat atau pembesar yang bermain di belakang NII atau Panji Gumilang.

"Ada dua pertanyaan, apakah Panji Gumilang terlalu pintar sehingga bisa menipu pejabat, atau pejabat terlalu pintas sehingga bisa menipu Panji Gumilang," katanya.

Menurut dia, Panji Gumilang tidak terlalu pintar sehingga diyakini ada yang memanfaatkan NII karena massanya sangat besar.

Ia mengatakan, hal ini dibuktikan dalam Pemilu 2004 silam terjadi penggelembungan suara di Pondok Pesantren Al Zaytun. [Ant/L-9]
&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sunny</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T21:51:02</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85545">
    <title>Menlu RI Berbohong di Jenewa</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85545</link>
    <description>&lt;pre&gt;Ref: Pada umumnya kaum kleptokratik tidak punya malu selain kemaluan, jadi berani bohong di depan umum, demikianlah sifat rezim NKRI.


http://theglobejournal.com/politik/menlu-ri-berbohong-di-jenewa/index.php


Menlu RI Berbohong di Jenewa
Jum`at, 25 Mei 2012 17:07 WIB
Jenewa-Beberapa jam lalu, catatan HAM Indonesia ditinjau oleh Dewan HAM PBB dalam sidang periodik ke-13 di Jenewa, Swiss. Isu-isu kunci, seperti perlindungan atas kebebasan beragama atau situasi HAM di Papua, diangkat oleh banyak negara anggota PBB yang turut dalam kajian HAM.

Banyak anggota Komisi HAM Asia atau AHRC (Asian Human Rights Commission) dan organisasi-bawahannya ALRC (Asian Legal Research Center) prihatin dengan penegakkan HAM di Indonesia. Atas situasi diskriminatif yang dialami kaum minoritas di Indonesia, Swedia, Jerman dan Swiss menyatakan kekecewaannya. Kelompok minoritas di Indonesia, seperti Ahmadiyah, Syiah, Baha’i dan Kristen. Mereka mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan tegas terhadap mereya yang menindas dan melakukan tindak pidana hingga nyawa yang meregang dari kelompok-kelompok minoritas.

“Tanggapan oleh pemerintah Indonesia atas isu-isu dan pelanggaran HAM yang dibahas dalam kajian ini adalah sangat mengecewakan, karena (jawaban) mereka sering hanya berisi penolakan dan menunjukkan kurangnya rasa hormat bagi korban dan hak-hak mereka,” kata Wong Kai Shing, Direktur Eksekutif AHRC. Hal ini terungkap dalam laporan Situs Asian Human Rights Commission (23/5, AHRC-PRL-016-2012), yang sedang mengikuti kegiatan di Jenewa, Swiss, tanggal 23-26 Mei.

Marty Disindir Habis
Seperti disindir sejumlah media asing, Menlu RI Marty Natalegawa dianggap berbohong, ketika memimpin delegasi Indonesia mempertanggung-jawabkan tindakan diskriminatif Pemerintah Indonesia terhadap kaum Minoritas. Marty membantah sinyalemen kelambanan pemerintah Indonesia tentang perlindungan dan penghormatan terhadap kebebasan beragama.”Pemerintah Indonesia menghormati semua agama sebagai sama.”

Media asing menganggap klaim Marty bertentangan dengan semua laporan lapangan, dan tidak bersesuaian dengan, misalnya, perda-perda diskriminatif di negeri ini.Sejumlah negara, termasuk Perancis, Jepang dan Selandia Baru, mengangkat situasi di Papua, yang mencakup kekerasan yang makin meluas, penangkapan sewenang-wenang dan penahanan, serta pembatasan sah terhadap kebebasan berekspresi dan berkumpul.Prancis menyebut secara langsung perihal kesulitan media asing memperoleh akses untuk masuk ke Papua.

Sementara itu, AS dan Jerman mengangkat artikel 106 dan 110 KUHP yang digunakan mengkriminalkan para aktivis HAM di Papua.Natalegawa menyatakan bahwa bahwa semua pelaku pelanggaran HAM di Papua sedang bertanggung jawab di ‘pengadilan yang transparan dan terbuka’. Sebaliknya, AHRC dan kelompok hak asasi mendokumentasikan kasus-kasus penyiksaan dan kekerasan yang tidak mendapat tanggapan yang memadai dari pemerintah Indonesia.

“Penolakan terhadap sejumlah pelanggaran HAM oleh militer (dan Brimob) di provinsi Papua dengan alasan impunitas (kewajiban keamanan Negara) adalah tidak dapat dipertanggung-jawabkan,” kata sindir Wong Kai Shing. “Respon Pemerintah Indonesia terhadap semua tindakan pelanggaran HAM amat mengecewakan. Sikap Pemerintah RI itu merupakan kemunduran besar bagi harapan mereka yang seharusnya mendapat perlindungan yang lebih baik dan menikmati hak asasi manusia di negeri ini,” pungkas Wong Kai.

Sejumlah pihak menganjurkan Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan rekomendasi Komisi HAM PBB atau Indonesia tidak mendapat tempat terhormat dalam pergaulan internasional. Kekecewaan atas laporan Pemerintah RI dapat berdampak ketidak-percayaan pada elbagai pbidang-bidang lainnya, dalam hubungan bilateral maupun multilateral. Ini lampu kuning untuk Pemerintahan SBY. [003-kabarindonesia.co
&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sunny</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T20:50:59</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85540">
    <title>Torture and other ill-treatment</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85540</link>
    <description>&lt;pre&gt;http://www.amnesty.org/en/region/indonesia/report-2012
  Head of state and government 
  Susilo Bambang Yudhoyono 
  Death penalty 
  retentionist 
  Population 
  242.3 million 
  Life expectancy 
  69.4 years 
  Under 5-mortality 
  38.9 per 1,000 
  Adult literacy 
  92.2 per cent 
  a.. Torture and other ill-treatment 
  b.. Excessive use of force 
  c.. Freedom of expression 
  d.. Discrimination 
  e.. Sexual and reproductive rights 
  f.. Domestic workers 
  g.. Impunity 
  h.. Death penalty 
  i.. Amnesty International Reports 
  j.. Amnesty International Visits
Indonesia assumed the chair of ASEAN and in May was elected to the UN Human Rights Council for a third consecutive term. The government strengthened the national police commission but police accountability mechanisms remained inadequate. The security forces faced persistent allegations of human rights violations, including torture and other ill-treatment and use of unnecessary and excessive force. Provincial authorities in Aceh increasingly used caning as a judicial punishment. Peaceful political activities continued to be criminalized in Papua and Maluku. Religious minorities suffered discrimination, including intimidation and physical attacks. Barriers to sexual and reproductive rights continued to affect women and girls. No executions were reported. 

Torture and other ill-treatment 
Security forces faced repeated allegations of torturing and otherwise ill-treating detainees, particularly peaceful political activists in areas with a history of independence movements such as Papua and Maluku. Independent investigations into such allegations were rare. 

  a.. In January, three soldiers who had been filmed kicking and verbally abusing Papuans were sentenced by a military court to between eight and 10 months’ imprisonment for disobeying orders. A senior Indonesian government official described the abuse as a “minor violation”. 
  b.. There were no investigations into allegations of torture and other ill-treatment of 21 peaceful political activists by Special Detachment-88 (Densus-88), a police counter-terrorism unit. The 21 had been tortured during arrest, detention and interrogation in Maluku in August 2010. 
Caning was increasingly used as a form of judicial punishment in Aceh. At least 72 people were caned for various offences, including drinking alcohol, being alone with someone of the opposite sex who was not a marriage partner or relative (khalwat), and for gambling. The Acehnese authorities passed a series of by-laws governing the implementation of Shari’a law after the enactment of the province’s Special Autonomy Law in 2001. 

Top of page 
Excessive use of force 
The police used unnecessary and excessive force against demonstrators and protesters, especially in land dispute cases. In the rare instances where investigations took place, little progress was made in bringing perpetrators to justice. 

  a.. In January, six palm oil farmers were seriously injured in Jambi Province after Police Mobile Brigade (Brimob) officers fired rubber bullets at them in an attempt to evict them from a plantation they were working on. The plantation was the subject of an ongoing land dispute between the farmers and a palm oil company. 
  b.. In April, police in Papua shot Dominokus Auwe in the chest and head, killing him, and wounded two others in front of the Moanemani sub-district police station. The three men had approached the station peacefully to inquire about money the police had seized from Dominokus Auwe earlier that day. 
  c.. In June, security forces used unnecessary and excessive force while attempting to forcibly evict a community in Langkat district, North Sumatra. The community had been involved in a land dispute with the local authorities. When the community protested against the eviction, police officers fired on the crowd without warning, injuring at least nine people. Six others were kicked and beaten. 
Top of page 
Freedom of expression 
The government continued to criminalize peaceful political expression in Maluku and Papua. At least 90 political activists were imprisoned for their peaceful political activities. 

  a.. In August, two Papuan political activists, Melkianus Bleskadit and Daniel Yenu, were imprisoned for up to two years for their involvement in a peaceful political protest in Manokwari town in December 2010. 
  b.. In October, over 300 people were arbitrarily arrested after participating in the Third Papuan People’s Congress, a peaceful gathering held in Abepura town, Papua Province. Although most were held overnight and released the next day, five were charged with “rebellion” under Article 106 of the Criminal Code. The charge could carry a maximum life sentence. A preliminary investigation by the National Human Rights Commission (Komnas HAM) found that the security forces had committed a range of human rights violations, including opening fire on participants at the gathering, and beating and kicking them. 
Some human rights defenders and journalists continued to be intimidated and attacked because of their work. 

  a.. In March, journalist Banjir Ambarita was stabbed by unidentified persons in the province of Papua shortly after he had written about two cases of women who were reportedly raped by police officers in Papua. He survived the attack. 
  b.. In June, military officers beat Yones Douw, a human rights defender in Papua, after he tried to monitor a protest calling for accountability for the possible unlawful killing of Papuan Derek Adii in May. 
Top of page 
Discrimination 
Attacks and intimidation against religious minorities persisted. The Ahmadiyya community was increasingly targeted and at least four provinces issued new regional regulations restricting Ahmadiyya activities. By the end of the year, at least 18 Christian churches had been attacked or forced to close down. In many cases the police failed to adequately protect religious and other minority groups from such attacks. 

  a.. In February, three Ahmadis were killed after a 1,500-person mob attacked them in Cikeusik, Banten Province. On 28 July, 12 people were sentenced to between three and six months’ imprisonment for their involvement in the incident. No one was charged with murder and local human rights groups raised concerns about the weak prosecution. 
  b.. The Mayor of Bogor continued to defy a 2010 Supreme Court ruling ordering the authorities to reopen the Taman Yasmin Indonesian Christian Church. The congregation was forced to conduct its weekly services on the pavement outside the closed church, amid protests from radical groups. 
Top of page 
Sexual and reproductive rights 
Women and girls, especially those from poor and marginalized communities, were prevented from fully exercising their sexual and reproductive rights. Many continued to be denied the reproductive health services provided for in the 2009 Health Law, as the Ministry of Health had yet to issue the necessary implementing regulation. The government failed to challenge discriminatory attitudes and cruel, inhuman and degrading practices, including female genital mutilation and early marriages. 

  a.. In June, the Minister of Health defended a November 2010 regulation permitting specifically defined forms of “female circumcision” when performed by doctors, nurses and midwives. The regulation legitimized the widespread practice of female genital mutilation. It also violated a number of Indonesian laws and contradicted government pledges to enhance gender equality and combat discrimination against women. 
The maternal mortality ratio remained one of the highest in the region. 

Top of page 
Domestic workers 
In June, the President expressed support for the new ILO No. 189 Domestic Workers Convention. However, for a second successive year, parliament failed to debate and enact legislation providing legal protection for domestic workers. This left an estimated 2.6 million domestic workers – the vast majority of them women and girls – at continued risk of economic exploitation and physical, psychological and sexual violence. 

Top of page 
Impunity 
Perpetrators of past human rights violations in Aceh, Papua, Timor-Leste and elsewhere remained free from prosecution. The Attorney General’s office failed to act on cases of serious human rights violations submitted by the National Human Rights Commission (Komnas HAM). These included crimes against humanity committed by members of the security forces. 

  a.. A Memorandum of Understanding between Komnas HAM and the Timor-Leste Provedor (Ombudsman for Human Rights and Justice) which called for, among other things, information on people who disappeared in 1999 in Timor-Leste, lapsed in January and was renewed in November. No progress was reported (see Timor-Leste entry). 
  b.. In September, the Attorney General reportedly declared the case of murdered prominent human rights defender Munir “closed”. There remained credible allegations that, despite the conviction of three people for their involvement in his death, not all the perpetrators had been brought to justice. 
  c.. The government had yet to implement the 2009 recommendations of parliament to investigate and prosecute those responsible for the abduction and enforced disappearance of 13 political activists in 1997-1998. 
Top of page 
Death penalty 
For a third successive year no executions were reported. However, at least 100 people remained under sentence of death. 

Top of page 
 Share&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sunny</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T16:58:46</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85533">
    <title>INDONESIA: Government's denial at UN UPR very disappointing</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85533</link>
    <description>&lt;pre&gt;http://www.humanrights.asia/news/press-releases/AHRC-PRL-016-2012
INDONESIA: Government's denial at UN UPR very disappointing 
May 23, 2012 
More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on myspace Share on google Share on twitter 
(Hong Kong/Geneva/Jakarta 23 May 2012) Today, the Indonesia's human rights record was reviewed by the UN Human Rights Council in the 13th session of the Universal Periodic Review in Geneva, Switzerland. Key issues, such as the protection of freedom of religion or the human rights situation in Papua, were raised by many UN Member States participating in the review.

"The responses by the government of Indonesia to the issues and human rights violations discussed during the review were deeply disappointing, as they often contained only denials and showed a lack of respect for victims and their rights," noted Wong Kai Shing, Executive Director of the Asian Human Rights Commission (AHRC).

The AHRC and its sister-organisation the Asian Legal Resource Centre (ALRC) submitted reports to the review process, and made recommendations concerning a number of key human rights issues, including: the urgent need for the criminalisation of torture; institutional reforms needed to combat impunity, including to the military court system; religious discrimination and violence; and the human rights situation in the Papuan provinces, notably violations committed by with impunity by the Indonesian security forces. 

The full reports are available for download at http://www.alrc.net/doc/mainfile.php/upr/

Many of the AHRC and ALRC's concerns were shared by states conducting the review. Sweden, Germany and Switzerland, for example, expressed concerns regarding the persecution of religious minority groups in Indonesia, including Ahmadiyah, Christians, Shiites and the Baha'i. They urged the government of Indonesia to take measures against those who persecute religious minority groups and called for the withdrawal of discriminatory laws. 

While recognising that violence was being directed against religious minority groups, Indonesian Minister of Foreign Affairs, Mr. Marty Natalegawa, who lead Indonesia's delegation, denied allegations of government inaction regarding the protection of and respect for the freedom of religion. "The government of Indonesia respects all religions" he falsely claimed, despite discriminatory laws in the country. 

A number of states, including France, Japan and New Zealand, raised the situation in Papua, which includes widespread violence, arbitrary arrests and detentions, as well as unlawful restrictions of freedom of expression and assembly. France called in particular for access to Papua to be granted to foreign journalists. The US and Germany raised articles 106 and 110 of the Penal Code which are used abusively against activists in Papua. 

Natalegawa claimed that that all perpetrators of human rights abuses in Papua were being held accountable in ‘transparent and open courts'. The AHRC and other human rights groups have however documented cases of torture and violence which have not resulted in adequate responses by the Indonesian authorities, or resulted in those responsible being held accountable, but instead speak to a culture of impunity.

"The denial of the major problem of impunity in the Papuan provinces is irresponsible," Wong Kai Shing stated. "The disappointing response by the government is a setback to the hopes of those who want to see greater protection and enjoyment of human rights in the country," he concluded.


Document Type :Press ReleaseDocument ID :AHRC-PRL-016-2012Countries :Indonesia Issues :Freedom of religion, Human rights defenders Related content&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sunny</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-26T08:34:07</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85532">
    <title>Udangan Gathring CitraGran Cibubur</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85532</link>
    <description>&lt;pre&gt;Kpd Yth :
Rekan-rekan media
Di tempat
 
Dengan Hormat,
Perumahan CitraGran Cibubur mengundang
rekan-rekan media untuk menghadiri acara Gathring, info produk terbaru dan
santap siang bersama yang akan diselenggarakan pada:
Hari                : Minggu
Tanggal          : 27 Mei 2012
Waktu             : Pkl. 11.00 –
13.00 wib
Lokasi            : Belamosa Function Room, Family Park CitraGran
Cibubur
                         Jl. Alternatif Cibubur - Cileungsi KM. 4 Cibubur
                         Bekasi 17435
 
Acara dimeriahkan dengan
kegiatan Fun Bike, Pesta Kuliner, Lomba Sepeda Hias, Lomba Mewarnai, Bazaar dan
Live Music.
 
Kehadiran rekan-rekan media merupakan
suatu kehormatan bagi kami.
 
Untuk konfirmasi kehadiran
dapat menghubungi:
Bpk. Faizal 08138111908
Ibu Lia 08129140550
 
 
Salam Hangat,
CitraGran Cibubur

 




visit www.kemaliskandar.net&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>kemal iskandar</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T06:18:00</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85531">
    <title>KESEMPATAN BAGI PECANDU NARKOBA</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85531</link>
    <description>&lt;pre&gt;KESEMPATAN TERBATAS BAGI PECANDU NARKOBA

Dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke 66 dan Hari Anti Narkoba
Internasional. Bagi pecandu dan korban penyalahgunaan Narkoba yang
melaporkan diri ke Polri dan BNN dari tanggal 1 sampai dengan 30 Juni 2012
akan dilakukan rehabilitasi secara GRATIS dan TIDAK DIPROSES HUKUM*.

Info: 082117233333 / 085286803570 / 02180888075 /02193183335
FB:  &amp;lt;http://on.fb.me/JSnsZ4&amp;gt; http://on.fb.me/JSnsZ4

 

 

&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>LEONARDUS TOBING</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T05:35:23</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85528">
    <title>Kirimkan Karya Foto Anda : Penghargaan untuk Karya Foto Jurnalistik ”PILKADA DALAM LENSA”</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85528</link>
    <description>&lt;pre&gt;Penghargaan Foto Jurnalistik "Pilkada dalam
Lensa"

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama dengan AUSAID menyelenggarakan

Penghargaan untuk Karya Foto Jurnalistik ”PILKADA DALAM LENSA”

Hadiah
untuk Pemenang:
-
Laptop (Apple Macbook air 13’’)
- iPad 2 Wifi (3G64GBNew)
- Kamera (Canon 1100DKit)


DEWAN JURI
* Arbain Rambey (Kompas)
* Oscar Motuloh (LKBN Antara)
* Rully Kesuma (Tempo)
 
KETENTUAN
LOMBA
1. Karya foto jurnalistik media cetak/online, berbentuk foto tunggal dengan kategori hard news atau feature tentang Pemilihan Kepala Daerah baik sosialisasi, kampanye pemungutan suara, perhitungan suara, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan proses Pilkada.
2. Karya harus pernah dipublikasikan atau disiarkan di media massa (bukan media internal dan personal), pada periode antara 1 Januari 2011 – 15 Juni 2012.
3. Setiap peserta bisa mengajukan maksimal tiga karya.
4. Untuk karya foto, peserta harus mengirimkan klipping karya/link website yang sudah dimuat, dan file fotonya dalam format digital JPG, sisi panjang minimum 3500 pixel (minimum 8 MP).
5. Penamaan file foto: namafotografer_namamedia_judul foto_nomor hp.jpg. Sebagai contoh: hasanwibowo_korankita_meriahnya-demokrasi_088888xxxx.jpg.
6. Setiap foto diwajibkan memiliki keterangan foto (caption/teks), dimasukkan dalam file terpisah (.doc). Penamaan sama dengan foto yang disertainya.
7. Karya harus sudah diterima panitia paling lambat 18 Juni 2012 pukul 24.00 WIB.
8. Karya harus dilengkapi dengan pernyataan bahwa karya adalah karya orisinal dan tidak termasuk advertorial komersial. 
9. Dewan Juri akan memilih 3 pemenang utama dari 15 finalis, dan 60 foto terbaik untuk dipamerkan.
10. Karya yang sudah dikirim ke panitia tidak akan dikembalikan.
11. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.
 
Kirimkan
karya Anda ke Sekretariat AJI Indonesia:
Jl. Kembang Raya No. 6, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420
Telp 021-3151214 Faks. 021-3151261 Atau melalui e-mail: award.aji&amp;lt; at &amp;gt;gmail.com

Formulir
Pendaftaran dan Info lengkap bisa diperoleh di www.ajiindonesia.or.id Follow twitter: &amp;lt; at &amp;gt;ajiindo

Facebook
Kedutaan Australia: http://www.facebook.com/australianembassyjakarta
 




Sekretariat AJI Indonesia 
Jl. Kembang Raya No. 6 
Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420 
Indonesia 
Phone (62-21) 315 1214 
Fax (62-21) 315 1261 
Website : www.ajiindonesia.org&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sekretariat AJI</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T06:49:06</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85526">
    <title>Undangan Liputan Media: Pembukaan Pameran Foto 'InAbsentia' [1 Attachment]</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85526</link>
    <description>&lt;pre&gt;Kawan-kawan jurnalis sekalian,

 

Berikut undangan dari kawan-kawan Poros Photos untuk acara pembukaan Pameran
Foto 'InAbsentia' yang akan dibuka oleh Ifdhal Kasim (Ketua Komnas HAM) pada
:

 

Hari / Tanggal        : Sabtu, 26 Mei 2012

Pukul                      : 19.00 - selesai

Tempat                   : Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Cikini,
Jakarta Pusat

Performance           : Santo Klingon &amp;amp; Indobeatbox, Atap Alis, Bejo Untung,
Adi Wijaya &amp;amp; The Fredix.

 

Informasi detail ada di email di bawah ini.

 

Thanks,

 

Luluk Uliyah

Knowledge Officer SatuDunia

Jl. Tebet Utara II No. 6 Jakarta Selatan

Telp : +62-21-83705520

HP. 0815 9480 246

Email: lulukuliyah-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w&amp;lt; at &amp;gt;public.gmane.org, luluk-Zh3xB1PtdnUXhy9q4Lf3Ug&amp;lt; at &amp;gt;public.gmane.org

 

"Mari berbagi informasi dan pengetahuan"

 

-----------------------------------------------------------------------

 

Undangan Liputan Media: Pembukaan Pameran Foto 'InAbsentia'

 

Kepada 

Yth. Kawan-kawan jurnalis sekalian,

 

 

Poros Photos bekerja sama dengan Komnas HAM dan dukungan Yayasan TIFA, akan
menyelenggarakan Pameran Foto bertajuk 'InAbsentia.'

 

Masih segar diingatan kita bagaimana upaya jemaat HKBP Filadelfia untuk bisa
menjalankan ibadah dengan tenang. Perjuangan mereka yang terus dilakukan
hingga saat ini, masih belum bisa membuahkan hasil, meski hanya sekedar
ingin bisa beribadah di lahan yang ingin dijadikan gereja. Masih ingat pula
bagaimana para jemaat Ahmadiyah yang terus mendapatkan sikap represif oleh
kelompok intoleran.

 

Di ruang ekonomi sosial budaya, masih segar juga diingatan kita bagaimana
upaya masyarakat urban Jakarta yang berjuang untuk bisa mendapatkan tempat
hunian yang layak. Tak jarang mereka harus hidup berpindah, lantaran digusur
oleh kebijakan yang dinilai kurang berpihak. Kondisi masyarakat di
Sidowayah, Ponorogo, Jawa Timur, yang hingga saat ini masih kesulitan
mendapatkan hak atas kesehatan. Hampir masyarakatnya menderita
keterbelakangan mental secara turun temurun.

 

Pameran foto ini menandaskan hal-hal yang selama ini sengaja dialpakan dan
dinafikkan negara. Bahwa pelanggaran atas nilai-nilai kemanusiaan di negeri
ini ternyata juga masih terus berlangsung. Sebanyak 26 fotografer muda
peserta pelatihan fotografi dokumentasi sosial dan HAM, yang ditempa selama
tiga bulan, memberikan penegasannya dalam 133 karya foto yang mengangkat
kuat InAbsentia negeri kita. 26 essay foto tentang permasalahan sosial yang
cenderung mengarah pada pelanggaran hak asasi manusia.

 

Pameran Foto 'InAbsentia' akan berlangsung di Galeri Cipta II Taman Ismail
Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat pada 26- 31 Mei 2012. 

 

Pameran Foto 'InAbsentia' rencananya akan dibuka oleh Ifdhal Kasim (Ketua
Komnas HAM) pada :

 

Hari / Tanggal        : Sabtu, 26 Mei 2012

Pukul                      : 19.00 - selesai

Tempat                   : Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Cikini,
Jakarta Pusat

Performance           : Santo Klingon &amp;amp; Indobeatbox, Atap Alis, Bejo Untung,
Adi Wijaya &amp;amp; The Fredix.

 

Dengan semangat untuk mensosialisasikan isu hak asasi manusia, besar harapan
kami rekan media berkenan melakukan peliputan berita. Demikian undangan ini
kami sampaikan, atas bantuan dan kehadiran teman-teman media, kami ucapkan
terima kasih.

 

 

 

Hormat kami, 

 

 

Dian Ali Rachman

Koordinator Program Poros Photos

 

-----------------------------------------------

Kontak Person :

 

Dian Ali Rachman      : 085711159388

Adhi Kusumo                         : 08155283575

Kurniawan Tri Y         : 08159742634

 

 

&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Luluk Uliyah</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T11:20:13</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85524">
    <title>SENI TARUNG, BUMI TARUNG : KOBARKAN DAYA TARUNG MELAWAN LUPA’</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85524</link>
    <description>&lt;pre&gt;UNDANGAN DISKUSI TERBUKA 
tahan rasa pedih itu / dengan ketabahan /
ia akan menjadi mutiara bagi kerang yang luka (dipetik dr puisi Amrus Natalsya
“Warna dan Mata” )
UNDANGAN DISKUSI SABTU-AN : ‘SENI TARUNG,
BUMI TARUNG : KOBARKAN DAYA TARUNG MELAWAN LUPA’ bersama AMRUS NATALSYA dan
MISBACH THAMRIN dari SANGGAR BUMI TARUNG di Galeri Kontras (Jl Borobudur 14,
Menteng, Jakpus) 26 Mei 2012; 16.00-19.00.
Mohon kehadirannya dalam diskusi dan dialog
‘SENI TARUNG, BUMI TARUNG : KOBARKAN DAYA TARUNG MELAWAN LUPA’ bersama bapak
Amrus Natalsya dan Misbach Thamrin dari SANGGAR BUMI TARUNG (SBT). Kedua ‘Guru’
dari SBT ini akan menjadi pembuka diskusi dengan berbagi pengalaman berjuang
dan bertahan sepanjang setengah abad (50 tahun) melintasi 3 jaman. Menandai
perjalanan setengah abad itu bulan September 2011 SBT menggelar pameran di
Galeri Nasional, Jakarta dengan mengusung tema “Kobarkan Patriotisme Daya
Tarung Melawan Lupa” . Sebagai salah satu catatan penting seperti termuat dalam
kuratorial (Bambang Subarnas) pameran 50 tahun ini Amrus menyatakan bahwa
ideologi SBT harus selaras dengan perkembangan jaman dan harus masuk kedalam
perkembangan. Amrus lebih lanjut mengatakan bahwa SBT “Kalau (diibaratkan
Perahu) tadinya pakai dayung realisme. Sekarang tidak mungkin pakai dayung
realisme tapi pake dayung kontemporer. Tetapi (walaupun begitu) revolusionernya
jangan hilang” .
Dalam diskusi ini para peserta baik yang
berlatar pekerja seni, aktivis gerakan sosial maupun masyarakat umum diharapkan
menjadi narasumber/peserta aktif untuk mendiskusikan pembelajaran dari
pengalaman Sanggar Bumi Tarung. Sekaligus menarik benang merahnya serta
mendialogkannya dengan pengalaman, pembelajaran, gagasan kekinian yang
berkembang hari ini tentang ‘seni tarung’, seni pembebasan, seni untuk
perubahan sosial. 
Diskusi akan diselenggarakan pada Sabtu 26
Mei 2012, Pkl 16.00 –selesai, di Galeri Kontras Jl. Borobudur 14 Menteng
Jakarta Pusat
Salam Tarung
Ali Nursaid (Kontras) - Andreas Iswinarto
[Galeri Rupa Lentera Di Atas Bukit (kerja.pembebasan)], - Panitia Pameran 1257
Surat, Foto dan Lukisan ‘Melawan Lupa’, Galeri Kontras 14-31 Mei 2012
 
NB. Kesempatan ini disamping untuk membuka
lebih banyak kanal dialog di kalangan pekerja seni, serta kanal dialog dan
kolaborasi lebih intens antara pekerja seni dan aktivis atau organisasi gerakan
sosial (ngo, ormas, organisasi rakyat), sekaligus sebagai undangan bagi
kalangan organisasi gerakan sosial untuk membuka ruang bagi ‘seni tarung’
sebagai salah satu jalan tarung untuk pendidikan atau penyadaran rakyat,
pengorganisasian dan pada akhirnya untuk perubahan sosial. 
 
Sekilas tentang Sanggar Bumi Tarung 
 
Sanggar Bumi Tarung, Seni Tiga Jaman
http://kbr68h.com/saga/77/19195
 
Bertarung, Seni yang Berpihak oleh Baskara
T. Wardaya, Sj. PusdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik), 
http://www.facebook.com/notes/amrus-natalsya/bumi-yang-bertarung-seni-yang-berpihak-oleh-baskara-t-wardaya-sj-pusdep-pusat-se/3128360214554
 
SEKALI LAGI, POLITIK ADALAH PANGLIMA oleh
Hilmar Farid
http://www.facebook.com/notes/misbach-tamrin/sekali-lagi-politik-adalah-panglima-oleh-hilmar-farid/312562175446213
 
LUKISAN AMRUS NATALSYA "PERISTIWA
DJENGKOL", SUATU REFLEKSI oleh JOHN ROOSA terkait seabad SBT ini
http://www.facebook.com/notes/misbach-tamrin/lukisan-amrus-natalsya-peristiwa-djengkol-suatu-refleksi-0leh-john-roosa/275066695862428
http://www.facebook.com/notes/misbach-tamrin/senirupa-sebagai-daya-tarung-oleh-yudi-latiftulisan-sambutannya-sbg-ketua-oc-pam/271103499592081&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>andre andreas</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T12:26:45</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85523">
    <title>Kenapa Kok Kedubes AS Ikut Sibuk Masalah Lady Gaga?</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85523</link>
    <description>&lt;pre&gt;Heran dah,

Yang lagi pamer kebodohan wartawannya, medianya, apa Mustofanya ya?

Sudah jelas industri hiburan tulang punggung Amerika, ya, jelas lah kalau Amerika khawatir dengan warganya di sini. 

Lady Gaga meraih 5 Grammy Awar, 12 kali nominasi, terpilih sebagai satu di antara 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah Time dan Forbes. Dalam setahun terakhir saja meraup penghasilan Rp. 230 Miliar. 

Negara mana yang tidak menjaga aset (warganya) yang bisa mengeduk uang Rp.230 miliar setahun dari seantero dunia? Negara asal kan langsung dapat pajaknya? 

Sebaliknya, Hak buat Lady Gaga untuk mendapatkan perlindungan Amerika. 

Yang lebih pokok, Amerika dan pemerintah mana pun mengkhawatirkan warganya yang terancam di mana pun berada - sebagaimana ancaman yang belakangan ditebar oleh ormas-ormas - dan sudah sewajarnyalah Amerika melakukan segala cara untuk mengamankannya. 

Benar-benar pamer kebodohan. 


Dimas. 


Kenapa Kok Kedubes AS Ikut Sibuk Masalah Lady Gaga?

Hidayatullah.com ï¿½" Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa
B.Nahrawardaya mengaku heran, mengapa urusan Lady Gaga ï¿½"yang notabene urusan
kecil pihak Indonesiaï¿½"menjadikan pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS)
menjadi begitu sibuk?

Pernyataan ini disampaikan Mustofa terkait kehadiran Duta Besar Amerika Serikat
(AS) yang turun tangan mengurusi keamanan bahkan memberikan masukan ke DPR atas
kasus konser Lady Gaga yang mendapat reaksi kaum Muslim di Indonesia ini.

Menurut Mustofa, keikutsertaan pihak Kedubes AS sebagai indikasi ada sebuah
skenario yang sudah disiapkan.

âTidak mungkin tanpa persiapan, kemudian Duta Besar membela sedemikian
getolnya terhadap Lady Gaga, karena pementasan artis asing seperti Lady Gaga
sudah biasa di sini, dan nggak sampai melibatkan pihak Kedutaan. Tidak pernah
ada,âujarnya dalam sebuah konferensi pers di Aula Gedung Dakwah PP
Muhammadiyah, hari Kamis (24/05/2012) kemarin.

âKalau sekarang kemudian melibatkan seperti itu, maka memang sudah diplanning
sejak awal,â jelasnya kepada hidayatullah.com.

Menurut Mustofa, keterlibatan pihak Kedutaan, boleh jadi bagian dari tekanan
pihak Zionis-Yahudi di Indonesia. Apalagi meski tidak terang-terangan agen-agen
Zionis-Yahudi di Indonesia dinilai sudah semakin banyak.

âZionis akan memakai alat apa pun, memakai wahana apapun untuk bisa
mempengaruhi dan memasuki semua Negara. Kan di Indonesia agen Yahudi sangat
banyak, saya kira sebagian promotor dan sebagian insan musik ada yang jadi agen
Yahudi,â jelasnya.

Lebih jauh, Mustofa menilai, para promotor, musisi hingga budayawan di Indonesia
sudah dikuasai Yahudi.*

Jum'at, 25 Mei 2012
Rep: Thufail Al-Ghifari
Red: Cholis Akbar








------------------------------------

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group &amp;lt; at &amp;gt; FB: 
http://www.facebook.com/groups/mediacare/


Yahoo! Groups Links

&amp;lt;*&amp;gt; To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

&amp;lt;*&amp;gt; Your email settings:
    Individual Email | Traditional

&amp;lt;*&amp;gt; To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

&amp;lt;*&amp;gt; To change settings via email:
    mediacare-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw&amp;lt; at &amp;gt;public.gmane.org 
    mediacare-fullfeatured-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw&amp;lt; at &amp;gt;public.gmane.org

&amp;lt;*&amp;gt; To unsubscribe from this group, send an email to:
    mediacare-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw&amp;lt; at &amp;gt;public.gmane.org

&amp;lt;*&amp;gt; Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/


&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>mas</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T11:54:23</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85522">
    <title>[JATAM] DEKLARASI INDONESIA BERDAULAT TANPA TAMBANG</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85522</link>
    <description>&lt;pre&gt;*DEKLARASI INDONESIA BERDAULAT TANPA TAMBANG*

* *

*Hari Anti Tambang (HATAM), 29 Mei 2012*

* *

*PULIHKAN HAK RAKYAT, LAWAN PEMBODOHAN &amp;amp; LUPA*



Tanah air kita terus digali, dikuras habis dan dijual murah. Rakyat selalu
saja menjadi obyek pembodohan dan dikorbankan. Setelah tragedi penembakan
tiga warga petani tahun lalu di Bima NTB, daftar panjang rakyat dikorbankan
demi industri pertambangan terus bertambah. Tahun ini tiga petani pulau
Sumba divonis sembilan bulan penjara, karena kukuh mempertahankan tanahnya
yang dirampas perusahaan tambang Australia. Di Porong Sidoarjo, genap 2190
hari warga terus dalam keterancaman karena semburan lumpur Lapindo. Skandal
kasus Lapindo tidak saja menguras kas negara juga menghancurkan kehidupan
puluhan  ribu warga di sana.



Hampir 34 persen daratan Indonesia telah diserahkan pada korporasi lewat
10.235 ijin pertambangan mineral dan batubara (minerba). Itu belum termasuk
ijin perkebunan skala besar, wilayah kerja migas, panas bumi dan tambang
galian C. Kawasan pesisir dan laut juga tidak luput dari eksploitasi, mulai
lebih 16 titik reklamasi, penambangan pasir, pasir besi dan menjadi tempat
pembuangan limbah tailing Newmont dan Freeport. Demikian juga hutan kita,
setidaknya 3,97 juta hektar kawasan lindung terancam pertambangan, tak
luput keanekaragaman hayati di dalamnya. Padahal saat ini Indonesia
tercatat sebagai negara yang memiliki daftar species terancam punah
terbanyak di dunia, mencakup 104 jenis burung, 57 jenis mamalia, 21 jenis
reptil, 65 jenis ikan air tawar dan 281 jenis tumbuhan.



Tak hanya hutan, sungai kita pun sedang sakit. Jumlah daerah aliran sungai
(DAS) di yang rusak parah meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Sekitar
4.000 DAS yang ada di Indonesia sebanyak 108 DAS mengalami rusak parah.
Celakanya sungai justru dibiarkan jadi lokasi  pembuangan limbah. Sungai
Bengkulu dinyatakan tercemar karena limbah batu bara, demikin juga sungai
Ajkwa yang tercemar tailing PT Freeport.



Lubang-lubang tambang juga dibiarkan menganga. Di Bangka Belitung lebih
seribu kolong tambang timah tak diurus. Di Samarinda ada 150 lubang bekas
tambang yang dibiarkan begitu saja. Dua lubang diantaranya telah
menyebabkan 5 anak tewas tenggelam tahun lalu.



Keuangan negara juga dirugikan, daftar panjang kasus-kasus korupsi dan
penyalahgunaan kekuasaan (*abuse of power*) mengiringi catatan diatas.
Sektor pertambangan menjadi sapi perah partai-partai politik untuk mendanai
kegiatan politik mulai Bupati, Gubernur hingga pemilihan Presiden.
Penerimaan negara justru mengalir ke tangan oknum, partai politik dan
korporasi. Dari kasus divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) saja,
Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan kerugian negara sebesar
Rp 361, 161 miliar.



Celakanya justru angka ekspor barang tak terbarukan ini meningkat pesat,
nikel naik 800%, bijih besi meningkat  hingga 700%, dan bijih bauksit
meningkat 500%. Artinya tanah, air dan udara kita dirusak, dicemari untuk
memenuhi kebutuhan negara-negara yang rakus mineral dan energi.



Pengerukan bahan tambang yang rakus air, lahan dan energi selalu melibatkan
kekuasaan, telah nyata menjadi mesin penghancur yang serakah. Kebijakan
pertambangan yang makin longgar membuat Indonesia menjadi kawasan target
pengerukan bahan tambang di Asia Tenggara. Naiknya permintaan materi dan
energi dari India, China, Jepang, Korea, Australia dan Eropa  telah
memperparah pengkerutan ruang penghidupan warga. Pemerintah justru
mendukung upaya tersebut melalui Master Plan Percepatan Pembangunan
Indonesia (MP3EI).



Sungguh menghina akal sehat jika permasalah di atas hanya ditanggapi dengan
program clean and clear perijinan minerba, Corporate Social Responsibility
(CSR), juga beragam model penghargaan pada korporasi – baik
*Program*Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (
*Proper*) milik KLH maupun Penghargaan Aditama milik KESDM. Pembodohan ini
disempurnakan dengan menyebut pertambangan sebagai bagian pembangunan
berkelanjutan dan ekonomi hijau.



Mencermati fakta-fakta di atas, Kami, warga negara – perempuan dan
laki-laki yang  bergantung pada sumber-sumber kehidupan menyampaikan :



1.     Kami meyakini keserakahan kapitalis ekstraktif yang tidak terbatas
itu harus dihentikan karena pada kenyataannya kita hidup di dunia yang
serba terbatas.

2.     Kami meyakini sudah saatnya segala ekstraksi materi dan energi
dibatasi untuk sebesar-besarnya pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.

3.     Kami meyakini tindakan mempertinggi derajat keselamatan dan keamanan
rakyat, daya pulih produktifitas rakyat, serta keberlanjutan fungsi-fungsi
alam sebagai agenda utama. Oleh karenya penyelamatan kawasan-kawasan warga
dan penopang hidup yang telah dan segera dihancurkan oleh industri
pertambangan harus menjadi agenda prioritas penyelamatan dalam skala lokal,
nasional dan internasional.

4.     Kami pun meyakini gerakan penyelamatan kehidupan dari penghancuran
industri tambang harusnya melibatkan makin banyak elemen masyarakat yang
lebih masif dan mondial.

5.     Kami menyakini upaya penyelamatan kehidupan dari penghancuran
industri tambang tak hanya bertujuan menegakkan keadilan tetapi juga
menjaga ciptaan Yang Maha Esa.



Atas kesaksian dan keyakinan itu, kami menyerukan penghentian seluruh
operasi tambang di Indonesia dan dunia hingga sektor-sektor publik menjamin
keselamatan dan keamanan rakyat, produktivitas dan daya pulih rakyat serta
keberlanjutan fungsi-fungsi layanan alam.


&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>prio kustiadi</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T08:19:01</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85521">
    <title>[JATAM] DUKUNG PERINGATAN HARI ANTI TAMBANG (HATAM) 29 MEI 2012</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85521</link>
    <description>&lt;pre&gt; *DUKUNG PERINGATAN HARI ANTI TAMBANG (HATAM)*
*29 Mei 2012*

*Indonesia Berdaulat Tanpa Tambang*

*Pulihkan Hak Rakyat, Lawan Pembodohan &amp;amp; Lupa*


Pelanggaran HAM dan korupsi di sektor pertambangan memilkiki daftar
panjang. Anak-anak mati di lubang tambang di Samarinda Kalimantan Timur,
suku Karonsie Dongi digusur oleh PT Inco  di Sorowako Sulawesi Selatan,
ikan-ikan di karamba warga desa Betaua pada mati sejak PT. Ina Touna Mining
beroperasi di Tojo Una-una Seulawesi tengah, Newmont dibiarkan membuang
140.000  limbah tailing tambang setiap harinya ke laut Sumbawa NTB, PT
Freeport bahkan membuang  sedikitnya 200.000 ton perharinya ke sungai Ajkwa
di Papua, juga keluarga Bakrie dibiarkan melenggang dari jerat hukum
pengemplangan pajak tambang batubaranya dan membiarkan puluhan ribu korban
lumpur Lapindo genap 6 tahun menderita akhir bulan ini.



Itu baru sedikit catatan dari tambang yang sedang beroperasi, belum lagi
konflik yang ditimbulkan saat perusahaan baru bereksplorasi. Warga Lambu
ditembakin dan dibunuh di Bima NTB dan  tiga umbu petani di Sumba NTT
dikriminalisasi karena menolak tambang emas. Demikian juga petani kulon
Progo Yogjakarta, Wotgalih lumajang dan  Lembata yang diintimidasi,  dibuat
konflik satu sama lain karena menolak tambang pasir besi.



Sebagian potret di atas adalah bukti pertambangan memiliki daya rusak luar
biasa,  tak terpulihkan dan sarat korupsi. Namun justru pertambangan
mendapat perlakukan luar biasa pemerintah. Salah satunya kemudahan ijin.
Kini sedikitnya telah keluar 10.235 ijin pertambangan, meliputi luasan
lebih 60 juta hektar, belum termasuk tambang migas. Celakanya sebagian
besar bahan-bahan tambang itu untuk memenuhi kebutuhan asing, bukan bangsa
ini.



Sejak rezim orde baru hingga reformasi, pemerintah dan perusahaan tambang
telah memperlakukan rakyat dan lingkungan dengan sangat brutal, membuat
bangsa ini tak berdaulat terhadap sumber daya tambang dan migasnya. Sudah
saatnya kita menyuarakan ketidakadilan diatas. Mari bergabung  dan
mendukung 33 wilayah yang akan melakukan peringatan Hari Anti Tambang, 29
Mei 2012.



Beragam cara bisa dilakukan untuk menyampaikan ketidakadilan karena
pertambangan. Seperti yang dilakukan 16 wilayah tahun lalu. Warga Jambi,
Bangka Belitung, Aceh, Palembang, Bengkulu, Mandailing Natal, Bandar
Lampung, Sidoarjo, Samarinda, Kalimantan Tengah, Pulau Obi dan Gorontalo
turun ke jalan melakukan aksi dan teatrikal. Di Kalimantan Selatan menaiki
Tongkang untuk membentangkan spanduk HATAM. Sedangkan di Sulawesi Tengah
dan Sulawesi Utara, selain aksi juga melakukan mimbar bebas. Lalu di Sumba
warga menduduki lokasi pengeboran perusahaan dan di Sorong mengadakan
dialog terbuka. Di Yogyakarta, aksinya dilakukan mengajak publik
menyampaikan solidaritasnya dengan tulisan.



Mari menyerukan tuntutan negara Indonesia berdaulat atas sumber-sumber
kehidupan rakyatnya baik di tanah, air dan udara. Pilih ekonomi yang lebih
berkelanjutan dan bermartabat. Berdaulat Tanpa Tambang.



Bergabung memperingati HATAM atau Hari  Anti Tambang pada Selasa, 29 Mei
2012. Kita bisa lakukan dengan beragam cara untuk menyerukan : *Tolak
Tambang. Pulihkan Hak Rakyat, Lawan Pembodohan dan Lupa.*


*Apa sih HATAM ?*


Hari Anti Tambang disingkat HATAM merupakan peringatan anti pertambangan
yang diselenggarakan tiap 29 Mei  setiap tahunnya. Tanggal itu bertepatan
lumpur Lapindo meluap pertama kalinya, kini  puluhan ribu korbannya
dibiarkan menderita. HATAM mengingatkan kembali pelanggaran HAM oleh
pemerintah dan industri tambang yang terus meningkat, hilangnya kedaulatan
negara mengurus sumber daya alamnya. HATAM juga bentuk solidaritas bagi
warga di Indonesia dan seluruh dunia yang terus berjuang menyelamatkan
sumber-sumber kehidupan dari daya rusak pertambangan.


*Bagaimana Terlibat  &amp;amp; Mendukung HATAM ?*


Kita bisa melakukan apapun, seperti beragam  cara yang dilakukan  warga
sekitar tambang dan para pendukungnya untuk menyerukan sikapnya. Puncaknya
akan dilakukan pada 29 Mei 2012, setidaknya ada 33 wilayah yang akan
terlibat memperingati HATAM.



Jangan lupa *Dukung Deklarasi Berdaulat Tanpa Tambang* lewat : website
JATAM www.jatam.org atau atau kirimkan Pesan anda kepada JATAM dengan
format ketik : JATAM«spasi»PESAN ANDA kirim ke 0812-1552-5506.



Info lebih lanjut  kontak  Priyo Pamungkas 08561903417, email :
priyo-QQaZzJFFllvYtjvyW6yDsg&amp;lt; at &amp;gt;public.gmane.org atau buka www.jatam.org FB : Dukung 29 Mei Menjadi Hari
Anti Tambang Internasional Twitter : &amp;lt; at &amp;gt;mampangcorner


&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>prio kustiadi</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-25T07:47:53</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85515">
    <title>"PENJAJAHAN MAFIA MINYAK ATAS INDONESIA"</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85515</link>
    <description>&lt;pre&gt;"PENJAJAHAN MAFIA MINYAK ATAS INDONESIA" 

by &amp;lt; at &amp;gt;TrioMacan2000

Kondisi bangsa saat ini : hukum hancur, ketahanan pangan dan energy 
hancur, korupsi marak, kedaulatan rapuh, dst..awal bencana yg lbh besar

Sebulan lalu saya sdh kultwitkan bhw akan terjadi kelngkaan BBM. 2 
minggu yg lalu mulai terjadi. Skrg makin parah dan akan semakin parah, 
Kenapa BBM langka? 1. Stock menipis 2. BBM subsidi 12.4 juta kiloliter 
digelapkan pertamina 3. Petral "bermain" 4. elpiji mau dinaikan dst

Tahukah anda bhw stock BBM pertamina itu maks hny 24 hari? Pdhl 
idealnya 40 hari? Kenapa bisa terjadi? Dan skrg stock BBM hny 5-7 hari

Penolakan kenaikan BBM akan dijadikan "kambing hitam" oleh pemerintah 
dan Pertamina terkait kelangkaan BBM. Pdhl ada mafia yg bermain disini

Ketika kontak intelejen saya di Oman &amp;amp; Nigeria infokan bulan lalu 
ttg " pembajakan MT SMYRNI dan peledakan pipa bonnylite", alarm sy bunyi
 Strategi serangan apa yg sedang dilancarkan oleh mafia minyak ini? 
Kombinasi : stock menipis, cargo crude dibajak, pipa diledakan, dst..

Ditengah2 prahara BBM ini, tiba2 menESDM teriak minta tambahan kuota 
BBM subsidi 3 juta kiloliter lagi ke DPR. Itu = 25 triliun. Apakah semua
 clue tsb kebetulan hadirnya ditengah2 pertamina dan petral disorot sbg 
sarang korupsi terbesar?

Kapasitas Storage BBM pertamina di 
seluruh Indonesia hny 24 hari. Sbgn storage itu peninggalan belanda. 
Pembangunan baru selalu digagalkan. Kenapa pembangunan storage BBM 
selalu digagalkan oleh kompardor2 mafia minyak yg skrg berkuasa di 
istana, pertamina dan petral?

Dengan kapasitas Storage BBM kkta
 yg sangat terbatas, RI "terpaksa" harus impor minyak dgn "harga tinggi"
 krna alasan darurat. Jika stock BBM kita cukup utk 40 hari, opsi harga 
impor lebih fleksibel dan murah. Tidal seperti orang kebelet yg mau 
bayar mahal tarif WC

Dirut Pertamina sebutkan bhw kebutuhan BBM
 kita thn ini 56 juta kiloliter. Faktanya thn 2011 saja 68 juta KL. Ada 
12 juta KL yg "dimainkan", Dengan alasan kebutuhan darurat, Petral akan 
beli crude/product 30% lebih mahal dibandingkan harga rata2 dunia.

Ditengah2 kekacauan supply BBM RI, disinilah "peran" singapore. The 
litle dot country ini pemasok minyak ke RI. Dgn Storage &amp;amp; 
refinery-nya. Lalu pemerintah dan mafia minyak akan kambing hitamkan 
harga BBM yg murah dan subsidi yg besar atas kekacauan pasokan BBM ini. 
Padahal pemerintah tidak mampu, tidak mau dan malah jadi bagian dari 
operasi penggelapan BBM bersubsidi itu. Utk logistik 2014 dan pundi2

Tahun 2011 petral impor minyak produk (gasoline/diesel dst) dan crude 
total : 266.6 juta barel (42.4 juta kiloliter) = US$ 32 milyar APBN. 
Tahun ini Petral jika tidak dihancurkan oleh rakyat akan impor 300 juta 
barel (47.7 juta kiloliter). Dgn harga mark up US$ 120-130/barrel. Maka 
petral akan belanjakan uang APBN US$ 39 milyar atau Rp. 360 triliun uang
 APBN. Asumsikan saja mark up rata2 = 20%, atau sekitar 70 T

BBM yg kkta impor dengan mahal itu, plus BBM produksi domestik yg ada 
muatan subsidi nantinya sbgn akan mereka jual ke pasar nonsubsidi. 
Petral memang jago buat rekayasa pengadaan minyak. Guru mereka adalah 
trader2 raksasa yg jadi mafia minyak dunia. Bayangkan saja, harga crude 
saja rata2 2011 hny US$ 87/barel. Gasoline US$ 94 dan diesel US$ 102, eh
 petral beli sgn harga : 102, 118 &amp;amp; 123

Regim SBY mmg 
licik. BBM tidak naik is oke. Malah bagus. Mahasiswa ga demo. Tp BBM 
dibuat langka pdhl impor naik terus. Kemana larinya? Lalu pemerintah 
berkilah : "itulah..BBM tdk naik, disparitas harga tinggi, makanya 
banyak penyelundupan". Pdhl yg menyelundup iku sopo?

PT AKR 
distributor BBM Pertamina sebutkan bhw penyaluran BBM non subsidi thn 
2011 hampir 27 juta kiloliter. Kok bisa? Kemana aja? Darimana?

Anggaran BBM bersubsidi di APBN akan semakin besar. Artinya anggaran 
pembangunan mengecil. Infrastruktur hancur. APBN kita terkuras untuk : 
biaya dan belanja pegawai, pembayaran utang&amp;amp; bunga, subsidi BBM, 
pangan dst. Hny tersisa sedikit utk pembangunan. Anggaran pembangunan di
 APBN yg mengecil itu akan semakin kecil karena 4-10%nya habis utk bayar
 fee mafia anggaran di DPR. Mantappp !!

So, kalau FPI memang 
mau amar maruf nahi munkar idealnya mereka menyerang istana, pertamina, 
petral, BP migas dan DPR. jihad fisabilillah

Semakin byk RI 
impor minyak, petral apalagi dirutnya bambang irianto akan semakin 
senang. Kick back beli minyak&amp;amp; fee sewa tanker makin besar. Dirut 
Pertamina, kakak dan adiknya juga happy..mereka kuasai 1/3 kapal tanker 
yg disewa petral/pertamina. Rata2 40-50 cargo per bulan. Fee yg diterima
 keluarga Karen Agustiawan dirut Pertamina dari sewa kapal tanker saja =
 US$ 2-3 juta/bulan. Mainan kecil sih hehehe ... Sementara itu suami 
Karen, Herman Agustiawan, buka kantor di Kuala Lumpur utk atur bisnis2 
terkait pertamina dari jauh. Mantappp !

Karen Agustiawan itu 
siapa? Org luar yg sengaja dikarbit utk jadi dirut Pertamina. Sebelumnya
 dia dititip sbg konsultan pertamina. Setahun setelah itu Karen 
dipromosi jadi direktur pertamina dan setahun berikutnya jadi Dirut 
Pertamina atas permintaan khusus SBY. Publik masih ingat ketika menBUMN 
sofyan djalil sibuk bolak balik ke istana utk nama calon dirut 
pertamina. Semua ditolak SBY. Sampai2 akhirnya Sofyan djalil putus asa 
dan sebutkan semua nama yang ada diotaknya. Ketika nama KAREN disebut, 
langsung disambar oleh SBY

Siapa itu Karen? Kenapa SBY "jatuh 
cinta" kepadanya? Dia hanya boneka, makekin, dummy dari mafia minyak. 
Sebentar lagi dia jg akan diganti. Dapat ditebak pengganti Karen adalah 
Hanung Budya yg baru jadi direktur pemasaran Pertamina. Hanung dulu 
berkali2 tdk diloloskan BIN. BIN dijaman Sutanto tak pernah mau loloskan
 Hanung dan Krisna sbg direksi pertamina. Akhirnya sutanto yg dipecat 
utk amankan skenario mafia

Ary sumarno dirut pertamina juga jadi tumbal karena proyek ISC dan mau pindahkan petral ke Batam. Dipecat !

Karywan Pertamina yg 17.000 org itu asyik2 aja. Toh rejeki mereka ga 
berkurang. Ugan Ganda ketua SP diamankan dgn promosi tiap tahun hehehe

Dahlan iskan mau bubarkan petral dan tata pertamina malah kebentur 
tembok. Skrg dia malah difitnah dan mau dijatuhkan. DIS itu kerikil.

Batam, bitung dan biak, cilacap yang mau dikembangkan jadi storage BBM RI agar cad bisa 40 hari juga digagalkan mafia minyak.

So...cadangan BBM kita sebagian adanya di storage singapore. Kita beli 
BBM dari mereka. BBM itu asalnya crude kita yg kita jual ke spore

2 bulan yang lalu, ketika belum tahu Pertamina itu binatang apa, Dahlan
 Iskan sesumbar, Pertamina akan kalahkan Petronas..skrg DIS yg korban

Kapasitas kilang minyak kita 41 juta kiloliter tapi ga bisa produksi 
kapasitas penuh. Sering rusak atau "dirusakan". Ada jadwal2 tertentunya

Hatta Rajasa dulu pernah bilang : penguasa minyak adalah penguasaha yg 
paling tangguh. Dunianya keras, kejam, sadis, licin, biadab. Ingat kasus
 Zatapi, minyak oplosan ulah si Reza mafia minyak RI? Kasusnya di SP3 
polisi dan skrg pejabat2 yg terlibat jd direksi Pertamina. Wamen alm. 
Widjajono pernah nyatakan kekagetannya..minyak produk yg kita impor 
semuanya oktan tinggi, kelas pertamax plus. Pak Wid kaget kenapa tiba di
 RI jadi premium oktan rendah? Eeh ternyata dioplos ditengah laut oleh 
petral hehehe

Satu2nya solusi utk perkuat ketahanan energy 
bidang BBM adalah dgn cara RI harus punya/beli ladang2 minyak di luar 
negeri. Petral bubarkan

Pola oplos petral : beli 1/3 dari total
 muatan tanker, isi 2/3 dgn kualitas rendah.. blending.. jadi tuh 
barang. Satu cargo rata2 US$ 90 juta

Pertnyaan Alm Pak Wid 
wamen tercinta ttg kualitas BBM yg rendah pdhl kita impor BBM kualitas 
tinggi di media massa itu "sangat berbahaya"

Proses blending 
BBM kita baik di kilang lokal atau pun singapore menyimpang dari rumus 
baku blending utk hasilkan premium standar. Saking serakahnya mafia 
minyak ini, premium kita sering beroktan hanya 84 saja. Akibatnya fuel 
oil mobil2 di indonesia jebol !!

Kenapa Pertamina atau 
pemerintah RI tidak pernah mau beli ladang (field) minyak di luar 
negeri? Karena bhaya. Impor akan berkurang

Puluhan tahun yl 
kita sudah tahu bhw nanti kita akan impor minyak. Pemerintah/pertamina 
tdk pernah mau beli field minyak di luar negeri. Jika RI punya 
field/ladang minyak di luar negeri, maka impor menyusut drastis, korupsi
 rente dan mark up berkurang. Koruptor/mafia rugi. 

Dulu setiap
 impor minyak ada titipan US$ 1-2/barrel sekarang mark up alias titipan 
US$ 20-40/ barrel. Kita impor 266 juta barrel

Dulu mark up atau fee haram sewa kapal US$ 20-40.000 per cargo. Sekarang fee US$ 150-250.000 per cargo. Sebulan 40-50 cargo

Dulu yang bermain mark up BBM adalah cendana / Bambang Tri Cs, sekarang Reza Chalid cs (ada bambang dan rosano dibelakangnya)

Dulu yang bermain fee haram sewa kapal Tommy suharto, sekarang yg bermain Karen agustiawan dan keluarganya / Ronnie cs

Jaman Suharto, korupsi terkendali. Di pertamina jg (except ibnu S). 
skrg, jaman sby semua tak terkendali. Berlomba2 korupsi gila2an

Suap fee sewa tanker yang jutaan dollar per bulan itu mengalir ke atas. Operatornya ya bambang irianto dirut petral hehehe

Kakak ani sby, wiwiek mau coba2 bawa penguasaha jadi rekanan petral, 
langsung di cut oleh Reza Chalid. Disuap US$ 400.000 plus Rp. 250 juta. 
Wiwiek bawa pengusaha yg mau jd rekanan petral. Mau minta jatah impor 
minyak. Nawazir ditelp Karen. "layani beliau" kata Karen. Nawazier ( 
dirut petral sebelum Bambang irianto) langsung telp Reza. Infokan "ada 
musuh yg mau masuk lingkaran" ..reza beraksi : suap wiwik. Wiwiek 
dibujuk mafia minyak agar ga usah bantu pengusaha itu. US$ 400.000 dan 
250 juta plus belanja gila2an di Spore ditanggung Reza

Tender 
yang dilakukan Petral semuanya sdh diatur. Pemenangnya ya itu2 saja. 
Dari 5 rekanan yg menang, 1 pasti prshan Reza chalid. Sekarang Petral 
banyak "main" sama PTT thailand. Itu arahan mafia minyak agar "seolah2" 
petral bersih. Mafia minyak titip fee di PTT thai

Jend sutanto dan jend endriartono yg komisaris Pertamina aja "keok" lawan mafia minyak. Itu dahsyatnya power mereka hehehe

Harga tender minyak impor petral sdh diatur. Basisnya MOPS plus alpha. 
Akal2alnnya luar biasa. Prosedur aman. Pembelian minyak Petral yg scra 
langsung alias non tender, bermain dgn BUMN negara produsen. Yg bisa 
diajak main ya seperti PTT Thailand

Skrg SBY / Indonesia mau 
jajaki beli field minyak di Timor Leste. Tp mafia minyak lbh jago. 
Mereka duluan masuk kesana via PTT thailand. Nanti, Pertamina jika mau 
beli ladang minyak Timor Leste kembali lagi berurusan dgn PTT thailand. 
Dikadalin lagi hehehe

Selama RI tdk punya ladang minyak di LN, 
maka kebutuhan minyak impor makin tinggi. Disana bermain pemburu rente 
yg jg antek penguasa

Dahlan Iskan : "Mafia hukum memang sadis, tapi Mafia Minyak LEBIH SADISS ! "&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Al Faqir Ilmi</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-22T04:31:24</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85514">
    <title>Rights groups to highlight religious prosecution</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85514</link>
    <description>&lt;pre&gt;Ref: Apakah ada yang membawa masalah korban 1965/1966 ataukah sudah diselesaikan?


http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/23/rights-groups-highlight-religious-prosecution.html
Rights groups to highlight religious prosecution
Margareth S. Aritonang, The Jakarta Post, Jakarta | Wed, 05/23/2012 7:23 AM 
A- A A+ 
Representatives from human rights groups say they will urge the United Nations Human Rights Council (UNHRC) to issue recommendations forcing the Indonesian government to guarantee the rights of religious minority groups.

“We will specifically address the increasing violence against religious minorities so that the UN’s human rights body can decide on concrete recommendations for the Indonesian government,” Human Rights Working Group (HRWG) executive director Rafendi Djamin told The Jakarta Post from Geneva.

Rafendi added that the NGO delegation would also highlight the murder of rights activist Munir Said Thalib to add urgency to the need to abolish impunity.

The Indonesian delegation to the UNHRC’s quadrennial Universal Periodic Review comprises government officials, representatives from the National Commission on Human Rights (Komnas HAM), the National Commission on the Protection from Violence Against Women (Komnas Perempuan) and the National Commission on Child Protection (KPAI), as well as members of a number of rights groups, including the HRWG and the LGBT rights group Arus Pelangi.

Rafendi said that the HRWG and other civil society organizations had also prepared a damning assessment of human rights in the country.

In a 17-page summary report prepared for the UNHRC summit, 32 rights groups concluded that “in the past four years, there have been a series of retrograde steps in the implementation of state obligations to respect, fulfill and protect human rights, mainly in the freedom of religion, the protection of migrant workers and corporate responsibility in respecting human rights”.

The report further says that freedom of religion has suffered a significant setback, as reflected in the attacks on Ahmadis in Cikeusik, Banten, and the constant harassment of the GKI Yasmin congregation in Bogor, West Java.

“The situation for religious minorities has significantly worsened since 2008,” the report says, citing Human Rights Watch (HRW) data on the increasing attacks on minority religious groups nationwide from 135 incidents in 2007 to 216 in 2010 and 184 attacks in the first few months of 2011.

The report adds 30 cases, including the recent closure of 17 churches in Aceh, recorded by the HRWG between Jan. 1 and May 7 this year.

The report also highlights violence against women, children, migrant workers, indigenous peoples, migrants, refugees and asylum-seekers, as well as internally displaced persons.

The Indonesian government had also issued 207 regulations deemed discriminatory toward some members of society as of August last year. The regulations include the 2008 Pornography Law, a decree on female circumcision issued by the Health Ministry in 2010 and more than 200 ordinances issued by local governments, the report says. 

In the report civil society organizations also urge the UNHRC to recommend that the Indonesian government resolve past gross human rights violations including the anti-Chinese riots of 1998, the Semanggi shootings and the Wasior and Wamena massacres in Papua.

Separately, the human rights watchdog Setara Institute said that the government must resolve past human rights abuses or it would be found guilty by omission by the international community.

“The government is committing violations of human rights if it allows so many perpetrators to walk freely. Therefore, it must soon take action to bring those criminals to justice to prove to the international community that we respect human rights in this country,” Setara Institute chairman Hendardi said.

Add Comment Share on facebook Share on twitter Share on email More Sharing Services&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sunny</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-24T22:34:05</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85512">
    <title>NKRI Buntung, Tapi Beruntung</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85512</link>
    <description>&lt;pre&gt;http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/nkri-buntung-tapi-beruntung
  a.. 
 
Map 
Jakarta, Indonesia 
Jakarta, Indonesia 
NKRI Buntung, Tapi Beruntung
Diterbitkan : 23 Mei 2012 - 3:51pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: Aboeprijadi Santoso) 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir pekan lalu menghadiri Pesta Raya Ulang Tahun ke-10 Restorasi Kemerdekaan Timor Leste, 20 Mei 2012. Oleh-olehnya: persahabatan yang makin kental dan penting bagi kedua negara. Namun persahabatan itu timpang.

Timor Leste mengharapkan Presiden RI datang dengan keterangan tentang jasad pahlawan nasionalnya, Nicolau Lobato, tapi malah dihadiahi meriam kuno. Sementara ratusan perwira Indonesia yang bermasalah karena aksi bumi hangus pada 1999, meski pun dicekal PBB, tetap menikmati impunitas.

Lebih satu dasawarsa setelah "kehilangan" propinsi ke-27, NKRI buntung, tapi ternyata malah beruntung.

Pengingat bermakna
Perayaan satu dasawarsa kemerdekaan Timor Leste itu seharusnya merupakan suatu pengingat (reminder) yang bermakna bagi sang tuan rumah mau pun bagi tetangga besar, bekas penjajah, yang kini menjadi sahabat penting.

Untuk pertama kali sejak pemerintahan bekas propinsi ke-27 itu beralih ke lembaga PBB UNTAET pada 1999, negeri ini mengalami stabilitas politik dan kemajuan ekonomi. Timor Leste memegang kendali baru sejak 2002, namun itu pun dengan basis politik yang rawan.

Di bawah Front CNRM, yang kelak berubah menjadi Partai CNRT, Timor Leste memenangi referendum pada 1999 dengan mayoritas yang meyakinkan. Tapi negeri ini bangkit dari puing-puing amuk tentara Indonesia. Dan CNRM/CNRT hanyalah sebuah konsep tanpa struktur politik.

Walhasil, sekali pun di bawah lambang Xanana Gusmao sebagai pemersatu bangsa, Timor Leste di bawah pemerintahan Partai Fretilin hingga 2006 hanya ramai diguncang dari dalam dan luar.

Politik yang stabil
Baru sejak pertengahan 2000an negeri ini mencatat kemajuan. Politik yang stabil dan angka pertumbuhan digit-ganda. Tapi ini pun bukan sesuatu yang menakjubkan. Berkat bonansa minyak, peluang kerja bertambah secara substansial dan menghasilkan stabilitas.

Pertumbuhan 12% mencolok, tapi jika ini beranjak dari puing-puing masa lalu dan merupakan hasil dari ketergantungan mutlak pada sumberdaya minyak, maka ini tidaklah mengherankan. Bahkan prestasi itu belum menjamin landasan ke depan selagi prasarana masih langka dan kemiskinan masih meluas.

Yang terang pemilu presiden yang aman baru baru ini menunjukkan negeri ini mulai beranjak mematangkan kehidupan yang demokratis.

Bagi tuan rumah, ini merupakan lompatan yang perlu dirayakan. Bagi sang tamu dari RI, ini suatu kehormatan. Presiden Yudhoyono, mantan Danrem di Dili yang dikenal masih bersih dari ulah berdarah, mendapat medali negara.

Sedangkan bagi banyak pengamat, Timor Leste adalah semacam monumen tentang sebuah masa silam yang kelam. Barang siapa berkelana ke pedalaman, tidaklah sulit menjumpai dampak seperempat abad perang dan pendudukan tentara Indonesia.

Dikuburkan bersama-sama
Timor Leste adalah sebuah negeri bertabur kubur. Setiap rata-rata setengah jam berperjalanan, Anda dapat melihat sejumlah kuburan yang berstruktur sama dengan warna dan hiasan yang sama. Artinya, banyak korban ditemukan bersama, dikuburkan bersama-sama, mungkin sekali mereka dibantai bersama-sama pula.

Bahkan, sampai pemerintah menyerukan kepada penduduk agar mengumpulkan sisa sisa jasad kerabat dan membangun monumen di setiap distrik bagi tulang belulang mereka.

Nicolau Lobato
Tapi ada sebuah jasad yang sangat didambakan oleh bangsa Timor Leste, yaitu tulang belulang Nicolau Lobato, Sukarno-nya negara ini. Presiden kedua Timor Leste ini ditembak mati pada akhir 1978 oleh satuan pimpinan Kapten Prabowo Subianto di bawah komandan Yonif 744 Mayor Yunus Yosfiah.

Kepalanya pernah diabadikan di bawah kaki Kolonel Dading Kalbuadi dan Kapten Prabowo serta beberapa perwira lain sebelum kepala tersebut kabarnya diminta Presiden Suharto agar dibawa ke Jakarta. Sejak itu nasib sisa jasad paling berharga bagi Timor Leste itu, tak diketahui.

Berulangkali, melalui diplomasi sunyi, Dili mengharapkan agar Jakarta dapat mengembalikan tulang belulang tersebut, atau setidaknya dapat memberi keterangan. Akhirnya, pada perayaan ulang tahun ke-10 kemenangan referendum pada 2009, Presiden Jose Ramos-Horta secara terbuka meminta kembali jasad Lobato.

Bahkan, April yang lalu di Dili santer berita seolah jasad itu akan dikembalikan, namun kehadiran Presiden Yudhoyono membuktikan kebalikannya. Indonesia malah menghibahkan sebuah meriam historis yang hanya berguna untuk upacara saja.

Kerjasama militer
Boleh jadi, TNI kerepotan untuk melacak kembali sisa jasad Nicolau Lobato, justru karena hal itu akan mengungkap aib tentara Indonesia, sekali pun hubungan kemiliteran kedua negara membaik. Presiden baru Taur Matan Ruak April yang lalu menegaskan kepada Radio Nederland, Timor Leste tetap menjaga hubungan baik, bahkan juga akan meningkatkan kerjasama militer.

Jose Belo, wartawan yang kala itu membantu kampanye Jenderal Taur, mengungkap pengganti Taur Brigjen Lere Anan Timor telah bertemu dengan Letjen pur. Prabowo dan Letjen pur. Kiki Syanakri, komandan TNI semasa bumi hangus 1999.

Yang menarik, Kiki kepada media Australia mengakui dirinya belum bisa datang ke Dili karena masih dicekal PBB. Inilah pertama kali perwira TNI mengakui bahwa sekitar 300an perwiranya resminya masih dalam Daftar Hitam SCU, Serious Crimes Unit, badan PBB yang mendakwa mereka yang bertanggungjawab atas kekerasan 1999.

Maju tapi gagal
Walhasil, meski Indonesia dan Timor Leste sejak 2008 bersama-sama mengubur kejahatan masa lalu melalui KKP (Komisi Kebenaran dan Persahabatan), sejumlah perwira TNI-bermasalah, seperti Wiranto dan Prabowo, sebenarnya masih dipenjara di negerinya sendiri.

Boleh jadi, itu satu alasan mereka selalu maju sebagai capres, meski pun selalu gagal.

Apa pun, meningkatnya hubungan dagang, ekonomi, politik dan militer antara Indonesia dan Timor Leste di sisi lain tetap ditandai ketimpangan yang merupakan dampak langsung dari pendudukan brutal tentara Indonesia.

Inilah yang seharusnya pantas menjadi reminder bagi seorang presiden RI yang berkunjung ke Timor Leste.

  a.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl 
  b.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl 
  c.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl 
  d.. © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nla..  
  b..  
  c..  
&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sunny</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-24T18:23:15</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85511">
    <title>Gaga speaks out about Jakarta drama  +  FUI to hold anti-Gaga rally</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85511</link>
    <description>&lt;pre&gt;http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/22/gaga-speaks-out-about-jakarta-drama.html
Gaga speaks out about Jakarta drama
Margareth S. Aritonang, The Jakarta Post, Jakarta | Tue, 05/22/2012 2:08 PM 
A- A A+ 
(AP Photo/Wally Santana)

US pop singer Lady Gaga has broken her silence on the long-running drama over her planned Jakarta concert, making note of censorship concerns and threats of violence against her.

After more than a week conflicting statements and international headlines over whether authorities would allow the June 3 concert in Bung Karno Stadium in Jakarta to go ahead, Gaga used her Twitter account, &amp;lt; at &amp;gt;ladygaga, to provide two brief statements.

"The Jakarta situation is 2-fold: Indonesian authorities demand I censor the show &amp;amp; religious extremist separately, are threatening violence," she posted on Tuesday. “If the show does go on as scheduled, I will perform the BTWBall [Born This Way Ball] alone.”

One of those authorities is Religious Affairs Minister Suryadharma Ali, who said last week that Gaga "indulges in pornography by wearing revealing costumes" and that she would have a negative influence on young Indonesians.

There are also groups like the Islam Defenders Front (FPI), which has expressed strong opposition to the Grammy Award-winning artist, with one FPI chief, Habib Salim Alatas, saying that Gaga brings "the faith of Satan to our country and thus will destroy the nation’s morals".

FPI spokesman, Munarman, told reporters on Tuesday that Indonesian Christians should praise the FPI, as well as other Islamic organizations for opposing the American singer Lady Gaga’s concert in the country.

"Lady Gaga has obviously misused symbols of Christianity, such as the cross, in her work," he said on the sidelines of a meeting with the House of Representatives Commission III overseeing law and human rights, citing Gaga's song "Judas" as an example.

”We should be praised for what we have done instead of being condemned for threatening religious minority groups,” he added.

Meanwhile, the Islamic People’s Forum (FUI), made up of several hard-line groups, plans to stage a protest against American pop diva Lady Gaga on Friday.

It claims the protest would be “an action of a million people” that would be held at 1:30 p.m., after Friday prayers, in front of the Jakarta Police headquarters, before a march to the Bung Karno Stadium and the National Police headquarters.

FUI has called on all Islam organizations, Muslim students and Islamic study groups to join the protest.

“This action aims to urge the police and related institutions to rebuff Lady Gaga,” protest coordinator Abdul Jabbar said on Wednesday.

He said that the protest was necessary to prevent Gaga - who he deemed was an American porn star, a member of the Illuminati (a secret society believed to be planning a design for a new world order) and a devil worshipper - from corrupting the morals of young Indonesians.

Gaga's ability to perform in the country hinges on whether the National Police issues her a concert permit.

Article 15 of the 2002 Police Law stipulates that it is the National Police who have the authority "to issue a permit for, and monitor activities, involving crowds".

After saying last week that it would not issue a concert permit for the pop singer, the National Police are now saying that one would be issued if Gaga’s concert promoters can get recommendations from the Indonesian Ulema Council (MUI) and the Religious Affairs Ministry.

In response to the move made by the National Police, University of Indonesia sociologist Sarlito Wirawan Sarwono has accused police of trying to “make friends” to divert some of the blame over the Lady Gaga controversy.

“Police rarely get support from the community, no matter what they do. So this time they make friends with those institutions so they are not the only ones to be blamed,” he said.

Sarlito said that behind all the Gaga brouhaha lies the competition to show which group had the most power and could benefit from it.

“Unfortunately, we find no role for the state to calm things down and take control of everything,” he said.

Meanwhile, a criminal sociologist from the same university, Muhammad Mustofa, said the inconsistency between the two police forces showed that there was no clear criteria dividing them.

In related development of the concert, The Immigration Office has revealed that American singer Lady Gaga has already obtained a visa to enter Indonesia.

Immigration Office spokesman Maryoto Sumadi said that the visa was issued last month.

“Administrative-wise, every requirement has been met,” Maryoto said on Monday, as quoted by tempo.co.

Maryoto said the singer, whose full name is Stefani Joanne Angelina Germanotta, also had a sponsor for her stay in Jakarta.

“The status of her sponsor is also clear for us,” he said, without elaborating on the sponsor’s identity.

He said that although Gaga has not been barred from entering the country, the Immigration Office cannot provide assurances about her upcoming Jakarta concert as it was up to other government agencies to decide on the event.

More than 52,000 tickets, with prices ranging from Rp 465,000 (US$50.75) to Rp 2.25 million, have been sold for the concert since they went on sale on March 10. (png/iwa)

++++

http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/23/fui-hold-anti-gaga-rally-friday.html

FUI to hold anti-Gaga rally Friday
The Jakarta Post, Jakarta | Wed, 05/23/2012 9:56 AM 
A- A A+ 
The Islamic People’s Forum (FUI), made up of several hard-line groups, plans to stage a protest against American pop diva Lady Gaga on Friday.

It claims the protest would be “an action of a million people” that would be held at 1:30 p.m., after Friday prayers, in front of the Jakarta Police headquarters, before a march to the Bung Karno Stadium and the National Police headquarters.

FUI has called on all Islam organizations, Muslim students and Islamic study groups to join the protest.

“This action aims to urge the police and related institutions to rebuff Lady Gaga,” protest coordinator Abdul Jabbar said, as quoted by tribunnews.com on Wednesday.

He said that the protest was necessary to prevent Gaga - who he deemed was an American porn star, a member of the Illuminati (a secret society believed to be planning a design for a new world order) and a devil worshipper - from corrupting the morals of young Indonesians.

The Grammy Award-winning singer is slated to hold her Born This Way Ball concert in Bung Karno Stadium on June 3.

“In every concert, Lady Gaga often shows off symbols of the Illuminati and paganism,” Abdul said. (iwa)
&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>Sunny</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-24T22:25:04</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85510">
    <title>{ UNDANGAN } The Indonesian Forum Seri 17, The Indonesian Institute dengan Tema: Menyoal Penangangan Konflik Sosial di Indonesia (Selasa, 29 Mei 2012 Pukul 14-16 WIB</title>
    <link>http://comments.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/85510</link>
    <description>&lt;pre&gt;*Bersama ini kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri dalam Diskusi *

*“THE INDONESIAN FORUM Seri **1**7**” *

*
*

*Waktu               : Selasa, 29 Mei 2012 Pk. 14.00-16.00 WIB*

*Tema                 : Menyoal Penanganan Konflik Sosial di Indonesia *

*Tempat             : Lt. 1 Gd The Indonesian Institute Jl. Wahid Hasyim
194 Kampung Bali, Jakarta Pusar *



Pada 11 April 2012 yang lalu, DPR RI dalam sidang paripurnanya telah
menetapkan Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial (RUU PKS)
menjadi Undang-Undang (UU). UU ini langsung menuai berbagai penolakan
karena dinilai tak akan cukup menangani berbagai konflik sosial yang
terjadi dan berkembang di Indonesia belakangan ini, terutama dengan
ketentuan yang memungkinkan masuknya TNI dalam penanganan konflik.



Di Indonesia, ada berbagai bentuk konflik sosial, dari yang berkaitan
dengan isu etnis, agama, kelompok kepemudaan, maupun kewilayahan. Di satu
sisi, keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia adalah aset berharga yang
menyimpan berbagai kekayaan lokal yang menjadi modal kemakmuran dan
kesejahteraan bangsa. Di sisi lain, konflik yang sering terjadi saat ini
disebabkan oleh persoalan yang sangat beragam dan tak melulu karena isu
keberagaman.


Aktor-aktor yang terlibat pun bukan hanya kelompok-kelompok yang terlihat
saling berhadapan dan berkonflik satu sama lain, namun ada aktor-aktor lain
yang juga berperan penting sebagai katalisator atau penengah, seperti
media, tokoh masyarakat, pemerintah (pusat dan daerah) maupun aparat
keamanan.

*
*

*Pertanyaan Diskusi:*

1.      Bagaimana sebaiknya mendefinisikan “konflik sosial”?

2.      Bagaimana peta konflik sosial di Indonesia saat ini ?

3.      Bagaimana idealnya peran polisi maupun TNI dalam upaya pencegahan
dan penanganan konflik sosial?

4.      Langkah-langkah strategis apa yang sebaiknya diambil oleh berbagai
pihak untuk dapat mencegah atau menangani terjadinya konflik sosial?

 *Pengantar diskusi oleh:*

*(1)*Dr. Pos M. Hutabarat, Ph.D (Dirjen Potensi Pertahanan, Kementerian
Pertahanan RI)

*(2)*Eva K. Sundari, Anggota Komisi III DPR RI, Fraksi PDI Perjuangan

*(3)*Otto Syamsuddin Ishak, Peneliti Senior IMPARSIAL



*Moderator:* Jaleswari Pramodhawardani (Dewan Penasehat The Indonesian
Institute).



*Sampai jumpa di Diskusi TIF. **Pada akhir acara, akan dibagikan rangkuman
hasil diskusi.*

* *

Salam,

*
*

*
*

*Adinda Tenriangke Muchtar. *

Direktur Program The Indonesian Institute

* *

*Konfirmasi dan Informasi:  Lola 081320255817 – ameliaislola-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w&amp;lt; at &amp;gt;public.gmane.org*



*THE INDONESIAN FORUM*

*Diskusi Bulanan *

*The Indonesian Institute *

Center for Public Policy Research

*The Indonesian Institute (TII)* adalah lembaga penelitian kebijakan publik
yang independen, nonpartisan, dan nirlaba yang didirikan sejak Oktober
2004. Kegiatan TII antara lain kajian masalah-masalah di bidang politik,
ekonomi, dan sosial. Selain kajian, TII juga melakukan fasilitasi kelompok
kerja serta pelatihan.

Di bidang pendidikan publik, TII juga aktif di kegiatan advokasi publik,
penulisan opini dan editorial *(Wacana TII),* kajian bulanan *(Update
Indonesia)* dan tahunan (Indonesia Report) serta forum diskusi *(The
Indonesian Forum).* TII berkomitmen memberikan sumbangan pada debat-debat
kebijakan publik dan memperbaiki kualitas pembuatan dan hasil kebijakan
publik dalam situasi demokrasi baru di Indonesia.

*
*

*The Indonesian Forum* adalah kegiatan diskusi tentang masalah-masalah
aktual di bidang politik, ekonomi, sosial, hukum, budaya, pertahanan
keamanan dan lingkungan. TII mengadakan diskusi ini sebagai media
bertemunya para narasumber yang kompeten di bidangnya, dan para pemangku
kepentingan dan pembuat kebijakan, serta penggiat *civil society*,
akademisi, dan media.

*
*

*Diskusi ini dilakukan rutin **setiap bulannya**, bertempat di Gedung The
Indonesian Institute, Lt. 1. Jl. K.H. Wahid Hasyim 194  Kampung Bali, Tanah
Abang, Jakarta Pusat. Telp. 3905558*
&lt;/pre&gt;</description>
    <dc:creator>lola amelia</dc:creator>
    <dc:date>2012-05-24T02:09:25</dc:date>
  </item>
  <textinput rdf:about="http://search.gmane.org/?group=$group=gmane.culture.media.mediacare">
    <title>Search Engine</title>
    <description>Search the mailing list at Gmane</description>
    <name>query</name>
    <link>http://search.gmane.org/?group=$group=gmane.culture.media.mediacare</link>
  </textinput>
</rdf:RDF>

